Tiga Provinsi, Satu Cermin Bernama Kemanusiaan

  • Bagikan

Oleh: Uhibbuddin Al Haqq

(Aktivis Sosial Kemanusiaan)

 

Musibah tidak pernah mengetuk pintu. Ia datang sebagai getar yang mematahkan rutinitas, mengubah tawa menjadi sunyi, dan memaksa manusia kembali belajar arti kehilangan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara kembali diuji oleh duka yang berbeda rupa, tetapi serupa luka.

Aceh—tanah yang sejak lama akrab dengan sebutan “Serambi Makkah”—kembali diuji dengan bencana yang mengoyak rumah, kebun, dan harapan. Sumatera Barat, yang dikenal dengan kekokohan adat dan ketajaman akal orang Minangkabau, dipaksa berhadapan dengan alam yang bergeser dari keseimbangan. Sementara Sumatera Utara, dengan denyut kehidupan yang keras dan beragam, kembali disadarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada beton dan besi, melainkan pada ketahanan hati.

Yang menarik, ketiganya memiliki karakter budaya yang sangat berbeda. Aceh dengan syariatnya, Minangkabau dengan adat basandi syarak, dan Batak dengan dalihan na tolu. Namun ketika musibah datang, semua sekat itu runtuh. Tak ada lagi “kami” dan “mereka”. Yang tersisa hanya sesama manusia yang sama-sama bertanya: mengapa ini terjadi, dan bagaimana kita bisa bertahan?

Di balik reruntuhan, ada satu hal yang sering luput kita sadari: musibah tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga membuka peta kejujuran kita sebagai bangsa. Saat bencana datang, terlihat jelas siapa yang benar-benar peduli, siapa yang sekadar ikut bersuara, dan siapa yang hanya menonton dari kejauhan dengan empati yang setipis jempol di layar.

Kita sering menyebut bencana sebagai “takdir”. Itu benar. Namun yang sering kita lupakan adalah bahwa cara kita merespons takdir adalah cermin kualitas peradaban. Apakah kita hadir sebelum kamera datang? Apakah bantuan tiba sebelum berita viral? Apakah empati bekerja sebelum tagar berseliweran?

Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara hari ini bukan sekadar titik-titik di peta bencana. Mereka adalah tiga cermin yang sedang memantulkan wajah Indonesia. Apakah kita masih bangsa yang cepat tergerak oleh derita, atau bangsa yang baru bergerak setelah linimasa ramai?

Dalam musibah, alam seakan sedang berbisik pelan namun tegas: “Aku tidak sedang memusuhimu, aku hanya mengingatkan bahwa kau tidak pernah benar-benar berkuasa.” Manusia boleh membangun jalan, jembatan, dan gedung tinggi, tetapi tidak pernah membangun kendali mutlak atas semesta.

Di tengah duka itu, kita melihat ibu-ibu yang menggendong kenangan dalam kantong plastik, anak-anak yang belajar tertawa di atas kenyataan pahit, dan para relawan yang datang bukan karena tugas, melainkan karena panggilan hati. Dari merekalah kita belajar bahwa Indonesia tidak pernah benar-benar runtuh selama masih ada yang saling menopang.

Aceh berdoa dengan tasbihnya. Minangkabau berdoa dengan sujud adat dan syaraknya. Tanah Batak berdoa dengan keteguhan dan nyanyian harapannya. Berbeda bahasa, berbeda irama, tetapi getarnya satu: getar untuk tetap hidup dan saling menguatkan.

Musibah ini seharusnya tidak hanya melahirkan bantuan, tetapi juga kelahiran ulang kesadaran: bahwa keselamatan tidak cukup hanya dengan teknologi, dan kepedulian tidak cukup hanya dengan unggahan.

Sebab pada akhirnya, yang paling ditakuti dari bencana bukanlah air, tanah, atau api—melainkan ketika manusia kehilangan rasa terhadap manusia lainnya.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *