Selacau Lintasi Zaman Mengisi Historicism

  • Bagikan
Foto: Istimewa/dokpri
Asyaro G Kahean, penulis, jumpa langsung dengan Sultan Rohidin Patra Kusumah VIII pada kali pertama, sekitar tiga atau empat bulan sebelum H pencoblosan Pilres pada 2009. --- Foto: Istimewa/dokpri

AWAN NEWS — SELAGODON Kingdom, penah dikenal oleh masyarakat dari berbagai belahan dunia. Nama ini, tak lain, adalah Kesultanan Selatjao atau yang dikenal melalui ejaan kita sekarang: Selacau Tunggul Rahayu.

Kesultanan ini bangkit kembali di lintas zaman; Mengisi historicism bidang kebudayaan atau kearifan lokal yang nyaris sirna gaungnya. Ada pun kebangkitan Selacau kembali, di bawah kepemimpinan Sultan Rohidin yang julukannya Patra Kusumah VIII.

Wilayah kekuasaan kesultanan ini tidaklah terlalu luas. Wilayah pemerintah sistem kerajaan tersebut berada di Priangan Timur dengan luas teretorial sekitar 171,61 kilometer persegi.

Sultan Rohidin Patra Kusumah VIII, mengaku tergerak hati untuk kembali menata jejak peradaban yang telah ada sejak 500 tahun silam, di tengah kehidupan masyarakat yang berada di lingkup wilayah kesultanan.

Sultan Rohidin memulai penataan sejarah Selacau Tunggul Rahayu dari sistem pemerintahan kerajaan. Kemudian, yang terkait dengan perekonomian, kebudayaan dan kesenian, meliputi juga pada sistem keamanan, ketahanan dan pertahanan kesultanan.

“Kami selaku penerus tahta berkewajiban untuk melestarikan melalui cagar budaya kesultanan,” katanya saat penulis mengunjungi pusat kesultanan di wilayah perbukitan: Kecamatan Parung Ponteng, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Tidak hanya melestarikan artefak saja yang dilakukan oleh keturunan ke-9 dari Prabu Surawisesa –begitu pengakuannya–; Melainkan juga, yang dilakukan dia adalah rekonstruksi nilai-nilai peninggalan dan jejak sultan-sultan berkaitan Selacau masa lalu, di tengah kehidupan sosial saat ini.

Bangkitnya kembali kesultanan menjadi bagian dari perjuangan nyata Sultan Rohidin yang laksana tak henti untuk bekerja keras. Penulis, jumpa langsung dengan Sultan Rohidin pertama kali: sekitar tiga atau empat bulan sebelum hari pencoblosan Pilres pada 2009.

Hari ini, banyak kalangan memandang: Rohidin sangat berhasil membuka mata masyarakat kawasan geobudaya dan pegunungan khususnya di Tasikmalaya selatan, dan umumnya masyarakat di Indonesia, terkait dengan pemerintah kerajaan yang ada di Tatar Priangan (Parahiyangan) yang pernah mendunia.

“Selaku penerus tahta, saya dibantu teman-teman, punya kewajiban juga membuka kembali sejarah kesultanan yang nyaris hilang gaungnya. Sekali pun sejarah lebih dikenal sebagai catatan peristiwa masa lalu, namun kami tetap memelihara dengan keyakinan, bahwa: kehidupan sejarah akan terulang,” sebut Rohidin.

Ia menjelaskan, Kesultanan Selacau telah ada sejak 500 tahun silam. Pada saat ini yang dihidupkan berupa cagar budayanya; Dan, bukanlah sebuah bentuk negara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurutnya, keberadaan kesultanan yang dibangkitkan kembali, berupa sejarah dan kebudayaannya atau berupa historicism dalam istilah kajian akademis. Sekarang ini, sebut dia, telah diakui oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sebagai cagar budaya daerah. Pengakuan itu, telah pula diperkuat lewat Perda Nomor 1 Tahun 2014.

“Kesultanan Selacau telah dipandang sebagai aset penting daerah. Selacau, juga memiliki potensi dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat daerah, dengan konsep kepariwisataan sejarah berbasis kebudayaan,” jelasnya.

Ia berharap, adanya perda tersebut hendaknya terjadi pula peningkatan nilai anggaran yang dikucurkan Pemkab Tasikmalaya; Agar pembangunan cagar budaya ini lebih mamadai, dan ke depannya dapat lebih baik dari pada yang telah tercapai hari ini.

Mengenai anggaran, sebut dia, sangat diperlukan; Utamanya sebagai dorongan pada upaya-upaya promosi, akselerasi pengadaan fasilitas kebudayaan yang dipromosikan untuk dikunjungi turis; Termasuk juga pada bidang kesenian, landscape tata letak pada bangunan, serta masalah kelengkapan daya tampung bagi turis-turis yang datang berkunjung hingga berkaitan dengan penanganan kamtibmasnya.(*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *