Muhammadiyah Kembangkan Hak Inisiatif Memasuki Aktivitas Keilmuan

  • Bagikan
Foto Istimewa/Editor
Editor buku Dinamika dan Historis Muhammadiyah Cabang Matraman, Asyaro G Kahean (kanan). --- Foto Istimewa/Editor

AWAN NEWS — Di atas keterbatasan berbagai hal dalam menjalani kehidupan fana, Allah subhanahu wa ta’ala selalu dan selalu memberikan alternatif sebagai jalan keluar. Alternatif, sungguh telah disediakan oleh Allah bagi makhluq.

Tugas hamba Allah memilah dan memilih alternatif; Untuk pengembangan hak inisiatif insani memasuki aktivitas keilmuan, serta diperolehnya cara menghadapi problematika kehidupan alam fana. Pada aktivitas keilmuan, kelak, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Alkhaliq; Tidak seorang juga akan mampu menghindar dari pertanggung-jawaban, ketika Allah menggelar mahkamah di padang mahsyar.

Muhammadiyah, dari alternatif bergerak mendinamisasi inisiatif. Kemudian, tampil sebagai organisasi bersifat menginisiasi kultur sosial bercorak keislaman dan kebangsaan. Persyarikatan ini lebih cenderung mendorong kesadaran pikiran; Juga menginspirasi insan muslim yang mencari alternatif untuk keluar dari problematika keterbatasan diri dalam menghadapi tantangan kehidupan alam fana.

Kebersamaan, telah menjadi alternatif bagi persyarikatan sebagai pendorong munculnya kesadaran pikiran menjadi daya tawar, dalam upaya menekan tantangan kehidupan; Baik untuk penguatan pribadi (amanu/iman) mau pun pengembangan jaringan atau komunitas berkait dengan kegiatan sosial keislaman serta kemasayarakatan dalam membangun kultur sosial (’amilu shalihati, wa tawa shaubil haqqi, wa tawa shaubish shabr).

Keberpihakan kepada anak-anak yatim dan kaum berekonomi lemah, telah menjadi bagian inisiatif persyarikatan yang menyusup ke arena akselerasi transformasi ilmu pengetahuan; Hal ini, dipandangkan Muhammadiyah memiliki efek domino dengan pengaplikasian kegiatan ibadah bersifat mahdha mau pun ghairu mahdha.

Pemurnian ajaran Islam yang ruju’ kepada Alqur-an dan Sunnah Rasululullah Shalallahu ‘alaihu wa sallam (Saw), sebagaimana diwawaskan oleh pendiri persyarikatan KH Ahmad Dahlan; Tidaklah akan membawa hasil maksimal dalam menghadapi tantangan alam fana, manakala anak yatim dan fakir miskin tidak ditingkatkan dan dibenahi derajatnya.

Mengacu sejarah panjang kehidupan, adanya pembiaran terhadap anak yatim dirundung duka plus fakir miskin kelaparan, akan membukakan potensi ummat Islam semakin tertinggal dari berbagai aspek kehidupan dunia. Akibatnya, ketidak-adilan tambah merajalela, kedamaian manusia diguncang dengan perilaku fitnah-berfitnah, dan keselamatan manusia menjadi terancam oleh kebinasaan budaya, karena akhlaqul karimah dapat saja kehilangan kendali.

Muhammadiyah, semenjak dekade awal terus-menerus mencatatkan gerakannya hingga hari ini; Agar setiap masa terjadi upaya-upaya pengangkatan derajat anak yatim plus fakir miskin; Dengan korelasi istilah, ibadah bersifat mahdha akan cacat moral (berpotensi mencelakakan) jika ibadah ghairu mahda tidak terinisiasi dalam membangun kultur sosial yang berdaya dorong menggugah kesadaran pikiran ummat untuk kembali menyerap energi (ruju’ kepada) Alqur-an dan Sunnah Makbullah.

Cabang Muhammadiyah Matraman Jakarta Timur, telah menjadi bagian yang serta dalam dinamika sosial keummatan dan kemasyarakatan di wilayah tugasnya. Bangunan kultur sosial yang berdaya dorong menggugah kesadaran pikiran ummat, akan lebih terlihat dinamikanya melalui artikel yang terhimpun pada Bagian Lima dalam buku Historis & Dinamika Muhammadiyah Cabang Matraman.

——-

Artikel ini disadur redaksi AWAN NEWS dari tulisan Asyaro G Kahean pada Pengantar Editor di buku Historis & Dinamika Muhammadiyah Cabang Matraman, halaman vii-viii; Buku ini diterbitkan oleh PCM Matraman Jakarta Timur bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Prof Hamka (UHAMKA), pada Juli 2022. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *