Awan News — Melemahnya nilai tukar rupiah yang belakangan kembali mendekati angka Rp16.000 hingga sempat menyentuh Rp17.600 per dolar Amerika Serikat membuat publik kembali mengingat masa krisis moneter 1998. Pada masa itu, Indonesia mengalami tekanan ekonomi besar yang menyebabkan rupiah terpuruk hingga berada di kisaran Rp16.800 sampai Rp17.000 per dolar AS.
Di tengah kondisi tersebut, Presiden ke-3 Republik Indonesia, B. J. Habibie mengambil sejumlah langkah strategis untuk memulihkan stabilitas ekonomi nasional. Masa kepemimpinan Habibie menjadi salah satu periode penting dalam sejarah pemulihan ekonomi Indonesia pasca krisis Asia 1997–1998.
Salah satu kebijakan besar yang dilakukan saat itu ialah restrukturisasi sektor perbankan. Pemerintah melakukan konsolidasi empat bank milik negara yang kemudian melahirkan Bank Mandiri. Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat sistem perbankan nasional yang sebelumnya terguncang akibat krisis dan penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat.
Habibie juga mengambil keputusan penting dengan memperkuat independensi Bank Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999. Kebijakan itu memberi kewenangan lebih luas kepada Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter dan mengendalikan nilai tukar rupiah tanpa tekanan politik secara langsung.
Selain itu, pemerintah kala itu menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan suku bunga tinggi guna menarik kembali dana masyarakat ke sektor perbankan. Kebijakan tersebut membantu mengurangi jumlah uang beredar sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional.
Di tengah ancaman inflasi tinggi, pemerintah juga memilih menahan kenaikan tarif listrik dan bahan bakar minyak (BBM) demi menjaga daya beli masyarakat. Langkah ini dianggap penting untuk mencegah tekanan ekonomi yang lebih berat terhadap rakyat kecil saat kondisi nasional belum stabil.
Berbagai kebijakan tersebut perlahan mulai menunjukkan hasil. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada di titik terendah berhasil menguat hingga berada di kisaran Rp6.550 per dolar AS. Pemulihan itu menjadi salah satu pencapaian besar dalam sejarah ekonomi Indonesia dan sering dikenang sebagai bagian dari keberhasilan pemerintahan Habibie dalam menghadapi krisis nasional. (*)















