Di Balik Satu Kesulitan, Allah Siapkan Kemudahan

  • Bagikan

Oleh: H Puji Raharjo Soekarno (Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung)

Hidup tidak pernah lepas dari ujian, kesempitan, dan kesulitan. Namun Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

 

Ayat ini bukan sekadar janji, tetapi penegasan berulang bahwa kesulitan tidak akan pernah berdiri sendiri. Ia selalu ditemani kemudahan yang Allah siapkan. Para ulama menafsirkan, satu kesulitan (al-‘usr) tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan (yusr).

Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya kesulitan masuk ke dalam sebuah lubang, niscaya kemudahan akan datang hingga mengeluarkannya.” (HR. al-Bazzar)

Hasan al-Bashri pun menegaskan, “Tidak akan mengalahkan satu kesulitan dua kemudahan.” Artinya, ujian hidup hanyalah satu, sementara pintu jalan keluar yang Allah bukakan jauh lebih banyak.

Imam al-Syafi’i berpesan dalam syairnya:
“Bersabarlah dengan sabar yang indah, sungguh dekatlah jalan keluar. Barang siapa menjaga Allah, ia akan selamat. Barang siapa jujur kepada Allah, ia tak akan disentuh bahaya. Barang siapa berharap kepada-Nya, ia akan sampai pada harapannya.”

Relevansi untuk Kita dan Bangsa

Pesan ini sangat nyata dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah mencatat, negeri ini berkali-kali diuji—dari perjuangan merebut kemerdekaan, krisis ekonomi, bencana alam, hingga tantangan global. Namun, bangsa ini selalu menemukan jalan untuk bangkit. Kesulitan tidak pernah menjadi akhir, justru menjadi pintu lahirnya kekuatan baru: persatuan rakyat, semangat gotong royong, dan kebijakan yang lebih bijak.

Hari ini, kesulitan pun nyata: PHK massal, harga kebutuhan yang melonjak, hingga tekanan hidup yang kian berat. Namun, bersama itu, Allah tetap membukakan ruang-ruang kebaikan: kreativitas yang tumbuh, solidaritas yang menguat, hingga peluang baru yang lahir dari keterdesakan.

Seperti syair Ibnu Duraid yang indah:
“Jika hati sudah dipenuhi keputusasaan, dada terasa sempit, dan bencana menancap kuat tanpa celah, tiba-tiba pertolongan Allah datang, menghubungkan akhir dari segala bencana dengan fajar pertolongan yang dekat.”

Penuntun Sikap Hidup

Surat Al-Insyirah bukan hanya penghibur, melainkan penuntun sikap. Kita diajarkan untuk bersabar, bertawakal, dan terus berusaha. Karena sesulit apa pun keadaan, Allah tidak pernah menutup jalan keluar bagi hamba-Nya.

Kesulitan tidak akan pernah abadi. Janji Allah tetap berlaku: “Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” Maka, jangan berhenti berharap, jangan berhenti berusaha. Karena di balik gelapnya malam, selalu ada cahaya fajar yang menanti untuk terbit.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *