Oleh SM Hasyir Alaydrus
AWAN NEWS — Tat kala fenomena alam yang dirambahi gerhana bulan atau matahari, sesungguhnya menjadi peristiwa luar biasa. Tangan-tangan manusia tidak sanggup membuat hal itu terjadi, apa lagi menggeser atau menghentikan agar gerak atau proses gerhana batal terjadi.
Teknologi canggih ruang angkasa yang telah dibuat manusia selama ini, tak lebih bertujuan untuk keperluan ilmu pengetahuan, dan sama sekali tidak dimaksudkan menghentikan proses alam seperti gerhana. Kegiatan dengan bantuan teknologi ruang angkasa, sepengetahuan kita, lebih besar penggunaannya untuk menelisik kehidupan ‘makhluk berfisik’ di planet selain bumi.
Lain itu, adalah untuk penelitian masalah kemungkinan ditemukannya suatu molekul diatomik yang terbentuk dari dua atom oksigen yang saling terikat di luar bumi.
Pada unsur kimia, dijelaskan bahwa oksigen memiliki simbol ‘O’. Dan label ‘O2’ dinisbatkan pada bentuk molekuler alami oksigen, yang selama ini telah dipandang ilmu pengetahuan melimpah di atmosfer bumi. Oksigen, merupakan bahan baku esensial untuk kehidupan dan proses pernapasan.
Tersebabkan tangan-tangan manusia hingga hari ini, –dan sangat mungkin hingga kiamat tiba– tidak sanggup membuat peristiwa gerhana pada bulan mau pun matahari atau menghentikan proses terjadinya gerhana. Allah Yang Mahapencipta lagi Mahakuasa atas seluruh alam, telah memerintahkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, antaranya melalui Surat Yunus ayat 101, sebagai berikut:
قُلِ ٱنظُرُوا۟ مَاذَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِى ٱلْءَايَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ
Artinya: Katakanlah (Muhammad): “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.
Terlepas akan manfaat atau tidaknya para ilmuwan yang telah menerbangkan pesawat ruang angkasa dengan tujuan penelitan mereka; Tulisan ini hanya sekadar ingin lebih menjelaskan mengenai keterbasan manusia, dan ada kalanya manusia lebih mengutamakan prasangka untuk menuruti hawa nafsu.
Maka, dalam tulisan ini penulis lebih memokuskan pada upaya-upaya memperkuat iman dan tauhid; Semata-mata untuk upaya pendekatan terhadap peristiwa kealam-semestaan luar biasa dan tergolong kerap terjadi; Di mana, salah satu peristiwanya adalah gerhana bulan total yang diperkirakan terlihat di Jakata, berlangsung pada 7 hingga 8 September 2025 dini hari.
Pada prespektif deskripsi Bab Iman Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah yang berkaitan dengan terjadinya gerhana, terdapat i’tikad di antaranya melansir kalangan ummat terdahulu; Yakni, mereka yang terjamin keselamatannya. Pertama, mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh alam, seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah.
Kedua, mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang alam tak lain untuk mendapat pengertian serta pemahaman akan peran Allah merupakan kewajiban kaum mukmin, menurut ajaran Agama. Dan ketiga, mereka juga menerangkan mengenai pokok-pokok kepercayaan yang benar melalui firma Allah dalam upaya menghindari prasangka hawa nafsu.
Pada poin ketiga, dasar ayat Alqur-an yang dikemukakan antaranya: QS Qaaf ayat 6-11; Al Ghasyiyah ayat 17-20; Yunus ayat 101; Ali Imran ayat 190; dan Surat Al Baqarah ayat 164.
Pada Surat Yunus ayat 101 dan yang senada lainnya, Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan kepada kaumnya supaya punya kepedulian untuk memperhatikan ciptaan Allah, baik yang ada di langit mau pun di bumi. Sedangkan tanda-tanda kebesaran Allah, mau pun peringatan para rasulNya tidak akan bermanfaat bagi orang-orang yang tidak beriman dan tidak mau berpikir.
Pada ayat tersebut, juga berisikan ajakan terhadap ummat manusia untuk menggunakan akal dan merenungkan alam semesta beserta peristiwa yang terjadi, antaranya gerhana bulan, sebagai bukti keesaan dan Kemahakuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Dalam upaya menguatkan aqidah dan tauhid plus mendorong agar ummat menggunakan akal serta pikiran dalam mencermati fenomena alam semacam gerhana, pada gilirannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajak pengikutnya untuk melakukan shalat kasyaf (shalat gerhana).
Pertama kali Rasulullah mengajak dan mendirikan shalat ini, saat terjadi gerhana bulan pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun ke-4 Hijriah (sekitar 20 November 625 M). Kemudian juga saat terjadinya gerhana matahari pada tahun ke-10 Hijriah atau sekitar 27 Januari 632 M.
Tentu saja, dalam mendirikan shalat gerhana sebagai bagian dzikir dan doa, serta untuk mengingatkan ummat; Bahwa gerhana matahari mau pun bulan, merupakan sebagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.
Shalat gerhana (shalat khusuf), juga tidak memiliki kaitan dengan kematian atau kelahiran seseorang. Akan tetapi telah terdapati penjelasan, bahwa ayat-ayat Allah dan Hadits Nabi semacam merekomendasi kepada ummat manusia yang melihat gerhana agar mendirikan shalat gerhana.
Mengutip Maklumat Muhammadiyah bernomor 01/MLM/I.1/E/2025, bahwa shalat gerhana dapat dilaksanakan sejak awal gerhana sebagian hingga berakhirnya fenomena tersebut atau pada saat bulan terbenam di masing-masing wilayah. Seruan ini merujuk pada hadits sahih yang menyatakan: gerhana bukanlah pertanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kebesaran Allah yang dipandang penting agar disikapi dengan shalat dan sedapat mungkin dilakukan juga refleksi spiritual.
Hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan tentang gerhana, penulis dikutip dari maklumat, yang artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, segeralah laksanakan shalat“. (*)















