Menata Kesabaran dalam Realitas Kehidupan Alam Fana

  • Bagikan
Foto: Istimewa/dokpri
Asyaro G Kahean, penulis, Dewan Redaksi AWAN NEWS. -- Foto: Istimewa/dokpri

Oleh Asyaro G Kahean

PROBLEMATIKA kehidupan di alam fana tidak kunjung terselesaikan, jika akal pikiran masih terbelenggu dengan kenikmatan duniawi belaka. Penting direnungkan kembali, bahwa hati boleh jadi sebagai penetu ketenteram dan kedamaian. Akan tetapi, tidaklah mencukupi kalau hati berjalan sendirian dengan membiarkan akal pikiran lalai terhadap ancaman yang bersifat merugikan; Apalagi, kehidupan kita di permukaan bumi ini sangat singkat bila dibandingkan dengan kelindan waktu yang terus-memerus melaju tanpa henti meski pun hari kiamat telah tiba.

Muqaddimah

Tatkala ada manusia merasa sedih, duka, menderita, kesulitan, hingga kebingungan: waktu tetap berkelindan tanpa henti. Di balik itu, waktu, bukanlah milik mereka yang gembira ria, hura hura, foya foya, mabuk kepayang hingga lupa diri.

Waktu, bukan juga dimiliki oleh si pecandu gawai atau mereka yang tersirap dengan platform digital; Yang dengannya, kegiatan mereka meluputkan orang-orang di kiri dan kanan, tetangga, hingga orang-orang dekat secara fisik yang tengah dilanda kegelisahan dan kerugian.

Waktu, sesungguhnya adalah milik Allah Yang Mahapencipta; Melalui waktu itulah al-qudrah (kodrat) dan al-iradah (iradat) disertakan kepada setiap makhluqNya, termasuk bagi seluruh manusia yang telah lahir di dunia.

Hanya pada sepenggal dari seluruh kelindan waktu, kita diberi hidup di alam fana olehNya. Usia kita sangat dibatasi; Sedangkan Allah Yang Mahahidup (Al-hayat), sifat KeabadianNya tanpa tergerus zaman. Bahkan, Allah jualah selaku penggendali waktu dalam bilangan usia (hidup dan mati) bagi tiap-tiap makhluqNya yang bernyawa.

Pada celah-celah kelindan waktu, Allah taburkan janji dan cara terjitu bagi setiap manusia: agar tidak terjebak dengan kenikmatan dunia yang cenderung menipu lagi merugikan. Janji dan cara yang didatangkan olehNya merupakan bentuk solusi adaptif, antaranya: menata kesabaran di atas nilai-nilai al-haqq (kebenaran) untuk memperkokoh iman dalam upaya insani melanggengkan ‘amilush shalihat’ (amal saleh) yang diaplikasikan secara nyata.

Realitas Kekinian

Kalau sekiranya di antara kita ada yang mati misalnya, waktu tiada akan pernah berhenti juga. Sekali pun, bila peristiwa kiamat menggeliat dan seluruh bumi beserta penghuninya hancur sehancur-hancurnya; Waktu, masih tetap bergulir dengan segala ritme dan konsekuensinya; Waktu, berjalan sesuai kodrat dan iradat dari Allah Yang Mahapencipta lagi Mahakuasa.

Di antara detik detik waktu, tiadalah seorang juga mempunyai kesanggupan menghentikan laju gulirannya; Napas kita yang silih berganti memompa paru-paru; Pada ritme berikutnya membentuk energi mendetakkan denyut jantung, hingga melancarkan peredaran darah di tubuh.

Peristiwa di tubuh kita semua, kian waktu semakin terpastikan, pada saat yang sudah ditentukan akan hilang daya. Kemudian, kematian menjadi jawaban sangat serius…!

Semua yang dirasa makhluq bernyawa, secara pasti, hanyalah melintasi sepenggal kecil dari deretan panjang sang waktu yang tiada berujung. Waktu, terus menerus melaju, kapan pun, di mana pun kita, bahkan lajunya tanpa jeda sedetik juga.

Sedangkan semua makhluq bernyawa di permukaan bumi semakin tersaksikan oleh mata kepala, punya waktu yang begitu amat terbatas. Semua kenikmatan semasa hidup di permukaan bumi ini akan kita tinggalkan.

Realitas yang dipapar ini, sungguh, merupakan probematika kehidupan alam fana. Hal tersebut menandakan: hidup kita tidak pernah lepas dari problema yang kadang kala dirasa rumit oleh diri sendiri, namun disadari atau tidak, sering juga berdampak kepada orang lain.

Masalah keluarga, pendidikan anak, ekonomi, kesehatan, gaya hidup, sampai terjadinya dekadensi moral, krisis jati diri, kehilangan arah dan tujuan, dan terkikisnya iman kepada Allah; Ini semua, bagian-bagian tak terpisah dari kompleksnya masalah, terlebih-lebih saat zaman memasuki era digital kini.

Pada era ini, begitu mudah sekali informasi didapat. Tak tanggung-tanggung banyaknya; Bertambahnya detik waktu, jumlah informasi kian melimpah-ruah memenuhi ruang-ruang gigabyte; Bahkan, terus memenuhi kapasitas server terabyte, petabyte hingga exabyte.

Hanya saja, yang lebih terasa adalah: tuntutan gaya hidup tingginya jauh melebihi puncak Himalaya. Ujung-ujungnya malah paradoks; Orang yang mampu mencapai ketenangan batin semakin langka. Mereka yang berada di antara kita, banyak juga merasa tertekan keadaan, bahkan sering kali terpentok dengan buntunya solusi.

Lantas, banyak orang kehilangan arah. Meriahnya informasi tanpa manfaat, sering pula hanya beriklim ‘sekadar untuk memanfaatkan’ urusan duniawiyah berpapar gaya hidup. Alangkah banyaknya orang di antara kita, akhirnya kehilangan nilai barakah. Bahkan, kerugian bersama sang waktu tetap melindas dan menggilas.

Inilah bagian tidak terpisah dari realitas sosial hari ini. Sedangkan kita, sekurang-kurangnya pernah mendengar; Bahwa Islam dihadirkan Alkhaliq melalui Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bukanlah sekadar nasihat moral. Dan kehadiran Islam, bukan pula mengancam siapa pun, melainkan memberi peringatan tanpa henti.

Ya…! Islam dihadirkan kepada ummat manusia bermuatan janji Ilahi. Seluruh alam, diingatkan olehNya. Dan seruan Islam, tidak hanya mengikis setiap kesulitan yang merugikan; Akan tetapi juga, didisain oleh Alkhaliq menjadi jalan keluar terindah dari beragam problematika kehidupan kita di alam fana.

Jika saja hari ini banyak di antara manusia kehilangan arah, rusak moral, tidak tahu jalan kembali kepada Ilahi; Orang seperti inilah agaknya yang dicap oleh sumpahNya sebagai orang celaka karena bakal ajeg berada di arena kerugian; Sementara untuk bergeser kepada nilai kemuliaan yang menguntungkan, dibukakan cara, sistem serta jalannya melalui mekanisme keilahiaan (iman dan amal saleh).

Antara Orang Merugi dan Janji Ilahi

Semenjak zaman Nabi Adam ‘Alaihis salam (AS) telah nyata: siapa pun yang melakukan perbuatan ingkar terhadap janji Allah berujung celaka. Sehingga label yang disandangnya bukan hanya hilang arah, namun juga berpeluang terperangkap pada siklus merugi tanpa henti.

Ada sumpah diabadikan dalam firman Ilahi. Pada sumpahNya, dilanjutkan dengan paparan bersifat janji; Hingga janjiNya berfungsi sebagai jalan keluar atau solusi, agar manusia tidak terjebak pada siklus celaka atau kerugian di jalan waktu yang teramat panjang.

Sumpah dari Allah itu diabadikan, antara lain didapati di Surat Al-‘Ashr yang berisi 3 ayat:

وَالْعَصْرِۙ ; اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian“. (QS Al-‘Ashr: 1-2)

Sekali pun sumpah Allah ‘demi masa’ atau demi waktu –yang berkeadaan terus melaju dan tanpa jedah–, langsung disambung dengan ayat 2: Di mana dijelaskan jika: ‘manusia berkeadaan merugi’.

Pada ayat ini, Allah sendiri yang menisbatkan. Allah Yang Mahakuasa juga sebagai Tuhan Yang Mahapenyayang dan memberikan solusi; Bagaimana caranya, supaya manusia tidak merugi permanen atau celaka terus menerus?.

Maka itu, penting sekali disimak ayat berikutnya (ayat:3), sebagai arah aplikatif adaptif: sekaligus menjadi pendorong bagi kemunculan kecerdasan yang tinggi; Meliputi, akumulasi pada tiga komponen kecerdasan: Intelektual (logika dan kognitif), Emosional (pengendalian emosi) dan Spiritual (keseimbangan penalaran): guna pencapaian solusi yang disifati dengan nilai nilai keabadian (fid dunniyaa wal akhirah):

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ

Kecuali (orang yang tidak merugi itu adalah), orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan (besertanya pula) saling menasihati dengan Alhaqq (kebenaran) dan saling menasihati dengan Ashshabr (kesabaran).” (QS Al-‘Ashr: 3)

Beriman dimaksud adalah kepada Allah Ta’ala dan tanda-tanda KemahakuasaanNya. Dalam hal ini, sebagai pembuktian atas pengakuan beriman adalah melalui cara beramal shalih (saleh) –tentu berbeda sekali dengan ‘iman’ yang dianut iblis–; Sedangkan amal saleh itu berlingkup juga pada aktivitas: amal ma’ruf nahi munkar (berbuat kebajikan, menjauhi kemungkaran atau perbuatan tercela).

Berarti pula, skala amar ma’ruf nahi munkar itu: mencakup daya kreasi insani yang didasari ayat-ayat yang datang dari Allah (Alqur-an) dan aplikasinya telah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (sebagai Sunnah Makbullah).

Tafakkur dan Tadabbur

Untuk langgeng dan ajegnya menjalankan amar ma’ruf nahi munkar secara adaptif: sudah seharusnya dijalankan saling nasihat menasihati dengan alhaqq –atau nilai-nilai kebenaran–. Nilai nilai alhaqq, sangat penting didekati melalui kegiatan tafakkur sekaligus tadabbur.

Tafakkur, dapat dimaknakan: berpikir mendalam tentang kebesaran Allah melalui penciptaan alam semesta dan isinya. Adalah merupakan pengembangan penalaran bahwa: kehidupan kita tidak sebatas di muka bumi saja, karena masih ada alam selain bumi yang kita tinggalkan; Yaitu, berupa alam barzakh (alam ruh setelah wafat) dan alam akhirat (yaumil hisab) –tempat di mana aktivitas kita ketika hidup di muka bumi kelak diproses oleh Allah Ta’ala, hingga ditetapkanNya balasan yang setimpal dan seadil-adilnya.

Sedangkan tadabbur, merupakan bagian penting bagi insan beriman dalam memproses inisitif untuk selalu merenungkan, menghayati, dan memikirkan secara mendalam akan makna yang terkadung pada ayat-ayat Alqur-an atau pun fenomena alam dan lingkungan kita yang dinamis.

Tadabbur, juga menjadi bagian untuk mengetahui tentang realitas sosial sebagai fakta valid dari perbuatan insani, sekaligus mengungkap adanya sikap dan prilaku; Khususnya berkaitan dengan: ajakan kepada yang bersifat ma’ruf (anjuran Allah: kebaikan, terpuji, benar menurut syariat dan akal sehat); Atau pula, ajakan bersifat munkar (larangan Allah: keburukan, tidak terpuji, melanggar norma yang disyariatkan, merusak kesehatan akal dan mental, merusak tatanan nilai-nilai sosial).

Kegiatan tadabbur yang sangat penting, adalah: kemampuan untuk mengambil hikmah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita di alam fana selanjutnya. Karena tadabbur, juga meliputi aktivitas hati dan akal pikiran untuk memahami pesan Allah yang qauliyah (Alqur-an) sekaligus ayat-ayatNya yang kauniyah (terbentang di alam raya, termasuk prilaku manusia).

Jadi, untuk meningkatkan iman dan amal saleh, bukanlah sekadar mampu membaca Alqur-an saja. Akan tetapi juga perlu mengembangkan cara (ikhtiar yang meliputi ragam keilmuan dan doa-doa) agar menghasilkan perubahan prilaku untuk menjalani mekanisme amar ma’ruf nahi munkar; Yang salah satunya, disifati dengan aktivitas wa tawa shaubil haqq (menjalankan aspek saling berwasiat atau nasihat menasihati di lingkup ajaran yang benar secara syariat).

Kesabaran Sebagai Panglima

Satu lagi yang sangat penting dan tidak terpisahkan dalam upaya menekan atau mengikis kerugian, adalah saling menasihati dengan kesabaran (wa tawaa shaubish shabr). Faktor utama pada pesan Allah ini, untuk membuka wawasan berkandungan filosofi; Bahwa: rasa sabar itu merupakan panglima.

Itu berarti, bahwa kesabaran bukanlah sifat rendah diri, sehingga tidak layak jika diukur dengan underestimate. Kesabaran yang dirangkai pada tulisan di sini, posisinya didudukkan di posisi mulia yakni: sebagai panglima.

Maka itu, kesabaran dapat juga dimaknakan sebagai pemegang senjata pamungkas. Bila saja pada seorang hamba Allah tanpa berkesanggupan memelihara nilai nilai kesabaran misalnya, maka seluruh amal saleh atau amal yang bernilai kebaikan, berpotensi amblas alias sia sia.

Penting pula dicermati, bahwa: sikap bersabar telah disinyalkan secara abadi. Bahwa siklus kesabaran itu berada di posisi kemuliaan; Setara juga dengan kemuliaan shaubil haqq, yaitu untuk berjalannya kegiatan saling nasihat-menasihati atau saling berwasiat. Haqq dan shabr, sekaligus sebagai bahan baku dari seluruh perwasiatan yang intinya berkandungan makna pada berbagai konten nasihat.

Karenanya, kesabaran itu berfungsi mulia. Sebab, posisinya menjadi salah satu pematik kemuliaan untuk mengantarkan hamba Allah agar dapat terhindar dari cengkeraman duniawi yang merugikan. Hal tersebut semakin jelas, karena kesabaran diakomodasikan secara adaptif di dalam Alqur-an dan sangat penting untuk diaplikasikan dalam kehidupan hari ini dan mendatang.

Berbicara kesabaran, berarti merupakan hal yang memiliki dinamika tersendiri dan dapat dijabarkan dengan penjelasan penjelasan, terutama pada yang bertitik akhir: berhasil dengan sangat baik atau kesuksesan yang menggembirakan.

Sehingga, sangat pantas, kalau kesabaran terus-menerus agar dipelihara oleh orang yang beriman, untuk melindungi amal saleh yang telah dilakukannya dengan susah payah; Karena amal soleh itu, dilakukan melalui beragam ikhtiar dalam lingkup dinamika tantangan dan hambatan yang berhasil dilewati.

Jika saja dikatakan kesabaran itu panglima yang memiliki hak memegang senjata pamungkas, berarti juga setiap orang yang selalu bersabar bukanlah sebagai orang semberono atau orang yang akal pikirannya kacau-balau. Orang yang berlaku sabar, bukan pula orang yang mudah memaki-maki atau menjustifikasi orang lain bersalah; Melainkan bahwa, orang yang berlaku sabar lebih menunjukkan sikap istiqamah akan imannya serta memelihara kehati-hatian, ketika ia berbicara (lisan-tulisan) mau pun bertindak (aksi-reaksi).

Orang yang selalu bersabar, sekurang kurangnya dapat dicirikan: pertama, ia berusaha menerapkan sikap istiqamah di atas imannya kepada Allah Ta’ala. Kedua, ia selalu menjaga martabat di atas kepentingan amal soleh dalam upaya menghindari perbuatan tercela. Sedangkan yang ketiga, ia selalu sadar diri, bahwa: mengaplikasikan amar ma’ruf nahi munkar seringkali menghadapi hadangan dan tantangan dengan tuduhan keji yang cendrung bermuatan fitnah.

Yang keempat, jiwanya cenderung terdorongan pada penambahan ilmu bermanfaat serta berusaha memetik hikmah dari setiap peristiwa. Kelima, ia berusaha membuka pintu maaf serta mengasah rasa ikhlas agar tajam dan menghunjam dalam di jiwa pada setiap melakukan amaliah kebajikan. Dan keenam, apa bila ia diperangi berusaha melakukan bela diri atau membalas dengan bersandarkan pada ketentuan yang disyariatkan Alqur-an dan Sunnah.

Natijah

Sampai di sini, masalah kesabaran adalah sebagai bagian dari strategi untuk penyelamatan amal soleh guna memunculkan nila nilai ikhlas dari setiap anjuran dari Allah dan RasulNya yang telah dan sedang diaplikasikan. Oleh karena itu pula, kesabaran tidak dapat ditukar apalagi dihabiskan; Kesabaran, hanya dibolehkan berpindah atau hijrah sebagai upaya pembaruan sekaligus penguatan strategi.

Jika saja gerak dan langkah kesabaran itu dinisbatkan sebagai panglima pemegang senjata pamungkas; Maka, pada senjata yang dipegang sang panglima tersebut berupa peluru yang dipenuhi dengan butir-butir ‘mesiu’ berupa keiklasan. Bukankah salah satu janji Allah bahwa: anak dan keturunan Nabi Adam ‘Alaihi salam yang tidak bakal terkecoh dengan tipu daya iblis adalah mukhlishin atau orang orang yang ikhlas?

Oleh kerana itu, hendaknya, selaku muslim harus berusaha lebih adaptif ketika mengisi ruang-ruang gigabyte atau yang kapsitas ruangnya lebih tinggi: terabyte, petabyte mau pun exabyte, untuk bersabar dan selalu dimuati konten dengan amar ma’ruf nahi munkar secara tulus ikhlas.

Dan hendaknya juga, kita turut mengingatkan bahwa: pandangan kesemestaan yang telah diturunkan oleh Alkhaliq melalui RasulNya (Alqur-an dan Sunnah) dipastikan melebihi semua ruang digital atau teknologi yang ditemukan manusia termasuk energinya telah tersedia di alam raya.

Oleh karena itu pula, setiap terdapat potensi yang merugikan manusia dalam kelindan waktu, relevansi dari pesan: wa tawa shaubil haqq, wa tawa shaubish shabr memiliki ketepatan bila terus disampaikan dan diaplikasikan untuk mengiringi pengembangan rasa ikhlas, fi sabilillah.

نٓۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *