Mengenang Perjuangan Syarikat Islam dan Pengaruhnya dalam Sejarah Indonesia

  • Bagikan
Foto: Istimewa/dokpri
DR Nurzengky Ibrahim, MM., akademisi, penulis, Pengajar Pendidikan Lingkungan Program S2 UNJ tinggal di Jakarta ---Foto: oto: Istimewa/dokpri

Oleh Nurzengky Ibrahim

AWAN NEWS — Syarikat Islam, lahir bernama Sarekat Dagang Islam (SDI); Merupakan salah satu organisasi yang muncul pada masa-masa awal pergerakan nasional, tahun 1905. Perkumpulan ini dilatar belakangi suatu keinginan luhur; Yaitu: untuk memajukan kepentingan ekonomi para pedagang muslim dan pribumi di Kepulauan Nusantara.

Adalah Haji Samanhudi yang merintis hingga mendirikan SDI. Didirikan di Surakarta, pada 16 Oktober 1905. Perkumpulan ini bersifat memberikan dorongan bagi peningkatan kemampuan masyarakat dalam banyak hal; Termasuk mencita-citakan kemerdekaan Republik Indonesia yang saat itu masih dikenal dengan Pemerintah Hindia Belanda. Sebelum penjajahan asing datang, negeri kepulauan ini termasyhur dengan julukan Nusantara.

Cita-cita untuk terlepas dari penjajahan bangsa asing, dalam pemikiran Samanhudi dan sahabat-sahabatnya; Antara lain, menguatkan segi ekonomi anak-anak bangsa untuk melawan kekuatan ekonomi kaum penjajah, termasuk para pedagang berketurunan Tionghoa. Maka, Serikat Dagang Islam atau SDI merupakan perkumpulan saudagar-sudagar pribumi yang muslim, yang bercita-cita memperjuangkan nasib agar terlepas dari unsur kemiskinan serta penindasan atau ketidakadilan, karena kaum penjajah umumnya memandang, bahwa penduduk asli sebagai bangsa berkasta rendah.

Ada pun pada masa-masa menjelang SDI dilahirkan, pedagang keturunan asing pada umumnya memiliki ekonomi dan strata yang lebih tinggi, dibandingkan dengan pribumi. Di bawah kepemimpinan Samanhudi, ternyata Sarekat Dagang Islam sanggup berkembang dengan pesat; Hingga membawa pengaruh yang tergolong signifikan, khususnya pada bidang da’wah berbasis ekonomi serta bidang pendidikan dan kebuadayaan.

Untuk upaya pengembangan lebih luas dan menjangkau berbagai wilayah tanah air; Pada 1912, HOS Tjokroaminoto bersama Hasan Ali Suharti mendirikan organisasi Sarekat Islam di Surabaya. Tjokroaminoto mengubah nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam.

Perubahan dari SDI menjadi Sarekat Islam (SI) memiliki tujuan pada penggalangan kerjasama; Selain merupakan strategi untuk memajukan para pedagang muslim agar dapat bersaing dengan pedagang non pribumi, namun juga terselip bidang pendidikan yang dijiwai rasa nasionalis bagi kalangan pribumi.

Pada perkembangan berikut, gerak-langkah Sarekat Islam terbukti meluaskan jangkauan da’wah berbasis ekonomi, dan anggotanya tidak terbatas di Pulai Jawa saja. Akan tetapi mereka yang menjadi anggota Sarekat Islam kian terbuka bagi masyarakat pribumi yang berada di kepulauan nusantara yang kini bernama Republik Indonesia.

Sekitar Januari 1913, Sarekat Islam lebih menegaskan bahwa perkumpulan saudagar muslim, bukanlah sebuah partai politik. Sekali pun secara organisasi SI bersifat keagamaan, akan tetapi bukan berarti tidak peka terhadap politik dan perbedaan budaya yang ada di seluruh nusantara. Islam, diyakini Tjokroaminoto dan kawan-kawan mengakui pluralitas; Sehingga, cita-cita untuk mensejahterakan masyarakat pribumi mulai dikibarkan ke berbagai kota hingga pelosok dusun.

Sarekat Islam, pada gilirannya dijadikan sebuah Badan Hukum, dalam bentuk organisasi kemasyarakatan, pada tahun 1916. Pada tahun yang sama, Sarekat Islam membuka sebanyak 181 cabang di seluruh wilayah Pemerintahan Hindia Belanda, dengan jumlah anggota, kurang lebih 700.000 orang.

Setelah Pemerintah Hindia Belanda memberi izin berdirinya partai politik; SI mengirimkan wakil-wakilnya ke Volksraad, pada tahun 1917. Dua tahun berikut (1919), terjadi lonjakan luar biasa; Anggota Sarekat Islam mencapai sekitar 2 jutaan orang.

Sarekat Islam Masa Sumpah Pemuda 1928

Sarekat Islam, telah menjadi organisasi yang memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia; Termasuk, dalam masa-masa memperjuangkan didengungkannya Sumpah Pemuda, pada 28 Oktober 1928: sebagai perekat nasionalisme Indonesia; Melalui komitmen bersama; Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, yaitu: Indonesia.

Memang, pada masa itu SI mengalami perpecahan. Akan tetapi tokoh-tokoh SI dinilai berhasil memberikan inspirasi dan mobilisasi massa. Sarekat Islam, dengan gigih memperjuangkan kepentingan bangsa Indonesia di berbagai bidang; Organisasi ini giat mendengungkan tentang pentingnya semangat kebangsaan dan keagamaan dalam memperjuangankan kemerdekaan.

Sarekat Islam tercatat dalam sejarah menjadi salah satu pelopor pergerakan nasional yang menyuarakan aspirasi kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh SI menggunakan berbagai cara, termasuk melalui surat kabar ‘Utusan Hindia’ dan partisipasi wakil-wakil SI di dalam Volksraad atau Dewan Rakyat.

Itu artinya, tokoh Sarekat Islam seperti HOS Tjokroaminoto (pemimpin utama SI), memainkan peran sentral dalam membesarkan organisasi. Beliau juga menyatukan berbagai kepentingan, dan mengarahkan SI kepada bentuk perjuangan politik yang lebih luas. Kemudian, H. Samanhudi yang lebih dikenal sebagai pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI), telah berperan penting pula menginisiasi gerakan da’wah berbasis ekonomi dan sosial yang kemudian berkembang menjadi gerakan sosial, keagamaan dan politik.

Sekurangnya, dua tokoh yang disebut di atas telah menjadi pelopor pergerakan nasional yang menyuarakan aspirasi kemerdekaan Indonesia. Ketokohan keduanya, juga tergolong berhasil memobilisasi massa dalam jumlah besar; Menyebarkan dan mengibarkan semangat nasionalisme serta kesadaran politik di kalangan masyarakat luas, termasuk di daerah-daerah pedalaman kepulauan nusantara.

Dalam pengaruh ideologis, Sarekat Islam memberikan pengaruh ideologi yang kuat dalam pergerakan nasional; Baik dalam bidang politik, sosial, mau pun ekonomi. Bahkan lewat organisasi ini, tertanamkan juga nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan dalam perjuangan melawan penjajahan.

Sarekat Islam Masa Kemerdekaan RI

Menapaki tahun 1940-an, Sarekat Islam atau SI telah menjadi organisasi yang bertransformasi pada pergerakan nasional dan memperjuangkan kepentingan ekonomi, sosial, politik, serta keagamaan rakyat Indonesia. Dengan kata lain, SI telah membangkitkan kesadaran nasional melawan ketidakadilan kolonial, dan menjadi pelopor persatuan berbagai golongan di tanah air, untuk mencapai kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Tokoh-tokoh SI, dalam segala daya dan pemampuannya, membangkitkan kesadaran nasional; Melalui penyebaran semangat nasionalisme dan menghembuskan makna penting kemerdekaan di kalangan rakyat jelata yang ada di kepulauan nusantara.

Perjuangan melalui jalur politik, organisasi ini aktif dalam berbagai forum politik, termasuk pada Volksraad atau Dewan Rakyat, gerakan buruh, gerakan bidang pertanian untuk bersama-sama memperjuangkan hak-hak rakyat dan menuntut kemerdekaan.

Pada bidang ekonomi, Sarekat Islam mendirikan koperasi, serikat pekerja, dan memperjuangkan hak-hak ekonomi rakyat, serta melawan praktik-praktik ekonomi yang merugikan kaum pribumi. Sedangkan dalam aktivitas sosial, organisasi ini berupaya meningkatkan derajat kehidupan masyarakat berekonomi lemah, bahkan anggota SI mengembangkan bidang pendidikan dan membudayakan gotong royong. Melalui ragam kegiatan, SI tergolong berhasil mempersatukan berbagai golongan di internal ummat muslim Indonesia melalui wadah organisasi.

Tokoh-tokoh penting masa-masa perjuangan kemerdekaan yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 dari kalangan Sarekat Islam, tercatat antaranya: Samanhudi, Tjokroaminoto, Abdul Muis, Agus Salim dan lain-lain.

Hingga saat ini, kader-kader dan generasi penerus Sarekat Islam (dengan penulisan yang sempurnakan: Syarikat Islam disingkat SI) masih terus memperjuangkan nilai-nilai Keislaman dan Kebangsaan secara nasional.

Ruh mau pun missi yang agaknya tidak boleh lekang serta terus diperjuangkan; Secara substantif, mencakup: pergerakan da’wah berbasis ekonomi dan perkoperasian, aktivitas sosial dan keagamaan, menjaga dan mmperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, pendidikan berbasis cinta tanah air dan akhlak yang mulia, hingga bidang penegakan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *