Satu Abad Lebih Umat Islam Tanpa Kepemimpinan

  • Bagikan
Foto: Istimewa/dokpri
Abudin Rabbani, Founder Ummul Quro Institute. --- Foto: Istimewa/dokpri

Oleh Abudin Robbani ]*

AWAN NEWS — Islam pernah memimpin peradaban dunia dalam rentang sejarah yang sangat panjang. Dari masa Khulafaur Rasyidin, Daulah Umayyah, Abbasiyah hingga Turki Utsmani, umat Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, militer dan akhlaq dunia. Kota-kota Islam seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Cordoba dan Istanbul pernah menjadi mercusuar peradaban manusia.

Hanya saja, sejak gelombang kolonialisme Barat masuk ke negeri-negeri Muslim di Asia dan Afrika, umat Islam mengalami fragmentasi politik yang sangat besar. Negeri-negeri Muslim dipecah menjadi banyak negara bangsa (nation state) dengan sistem pemerintahan yang beragam; ada yang berbentuk monarki, republik, parlementer, sekuler bahkan militeristik.

Puncak keterpurukan politik umat Islam terjadi ketika runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924 M. Sejak saat itu, umat Islam hidup tanpa kepemimpinan global yang mempersatukan kekuatan politik, ekonomi dan peradaban. Akibatnya, posisi umat Islam semakin melemah di panggung dunia.

Negeri-negeri Muslim yang kaya sumber daya, justru banyak bergantung kepada kekuatan asing. Konflik internal, perang saudara, kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, korupsi dan lemahnya persatuan, menjadi fenomena yang terus berulang. Padahal, sesungguhnya umat Islam memiliki modal yang sangat besar untuk bangkit kembali memimpin peradaban dunia.

 

Tiga Modal Besar Kebangkitan Umat Islam

  1. Sumberdaya Nilai: Alqur-an dan Sunnah

Umat Islam, memiliki pedoman hidup paling sempurna, yaitu: Alqur-an dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Kedua sumber ini bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga membangun sistem kehidupan; pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial dan peradaban.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

“Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Allah juga berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Israa: 9)

Ketika umat Islam berpegang teguh kepada wahyu, mereka memimpin dunia. Akan tetapi, ketika menjauh dari petunjuk Allah, kelemahan demi kelemahan mulai muncul.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, no. 318)

  1. Sumberdaya Manusia: Umat Islam Lebih dari 2 Miliar

Hari ini, jumlah umat Islam mencapai lebih dari dua miliar manusia yang tersebar di seluruh dunia. Ini adalah kekuatan demografi yang sangat besar. Hanya saja, jumlah besar tanpa persatuan, ilmu, disiplin dan visi peradaban tidak akan melahirkan kekuatan.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kondisi umat Islam di akhir zaman:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

Para sahabat bertanya:

أَوَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

Beliau menjawab:

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ

“Hampir tiba suatu masa ketika bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang mengerumuni hidangan.”

Para sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Bahkan kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan.” (HR. Abu Dawud no. 4297)

Hadits di atas menggambarkan, bahwa problem utama umat bukan semata jumlah, tetapi kualitas iman, persatuan, ilmu dan kekuatan.

  1. Sumberdaya Alam yang Sangat Melimpah

Negeri-negeri yang umumnya penduduknya Muslim, memiliki kekayaan alam luar biasa; Seperti, minyak bumi, gas, emas, batu bara, nikel, uranium, hasil laut, pertanian dan perkebunan. Ironisnya, banyak negeri Muslim itu justru tertinggal dan bergantung kepada negara lain yang umumnya non-Muslim.

Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ

“Dialah Allah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15)

Kekayaan alam tanpa kepemimpinan yang amanah, shiddiq, tabligh, fathanah dalam penegakan keadilan, hanya akan menjadi sumber perebutan, penjajahan dan konflik. Hal ini dapat kita lihat, cermati dan rasakan. Mengapa umat Islam lemah?

Pertama, jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah. Banyak umat Islam hanya menjadikan Islam sebatas ritual, bukan sistem hidup dan peradaban. Padahal kejayaan Islam dahulu lahir karena kuatnya hubungan umat dengan ilmu dan wahyu.

Sayyidina Umar bin Khattab RA berkata:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ

“Dahulu kami adalah kaum yang paling hina, lalu Allah muliakan kami dengan Islam. Maka kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kami.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Perkataan demikian sangat relevan dengan kondisi umat Islam hari ini. Banyak negeri Muslim lebih bangga meniru sistem Barat daripada membangun kekuatan Islam yang berlandaskan wahyu.

Kedua, hilangnya Persatuan Umat. Perpecahan politik, mazhab, kepentingan kekuasaan dan fanatisme golongan telah melemahkan umat Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Perlu disimak juga perkataan Ali bin Abi Thalib RA:

لَا بُدَّ لِلنَّاسِ مِنْ أَمِيرٍ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ

“Manusia harus memiliki pemimpin, baik pemimpin itu saleh ataupun zalim.”

Ungkapan di atas menunjukkan, betapa pentingnya kepemimpinan dalam menjaga stabilitas masyarakat. Tanpa kepemimpinan, kekacauan akan lebih besar.

Ketiga, lemahnya Ilmu dan Pendidikan. Dahulu, umat Islam menjadi pelopor ilmu pengetahuan dunia. Namun hari ini banyak negeri mayoritas Muslim tertinggal dalam riset, teknologi dan pendidikan.

Ibnu Taimiyyah رحمه الله mengingatkan dalam pesannya:

يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ وِلَايَةَ أَمْرِ النَّاسِ مِنْ أَعْظَمِ وَاجِبَاتِ الدِّينِ

“Wajib diketahui bahwa mengatur urusan manusia (kepemimpinan) termasuk kewajiban agama yang paling besar.” (As-Siyasah Asy-Syar’iyyah)

Beliau juga menjelaskan bahwa agama dan negara tidak akan tegak tanpa kekuatan kepemimpinan dan keadilan.

Dan yang keempat adalah dominasi Asing dan Ketergantungan Ekonomi. Banyak negeri Muslim kaya sumber daya tetapi miskin kemandirian. Sistem ekonomi global membuat negeri-negeri Muslim menjadi pasar, bukan penguasa ekonomi dunia.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi رحمه الله menyampaikan:

إِنَّ الْأُمَّةَ الَّتِي لَا تَمْلِكُ قُوتَهَا لَا تَمْلِكُ قَرَارَهَا

“Umat yang tidak menguasai pangannya, tidak akan menguasai keputusan dan kedaulatannya.” (Dalam kitab Fiqh Al-Awlawiyyat)

Perkataan tersebut menunjukkan pentingnya kemandirian ekonomi bagi kebangkitan umat Islam.

 

Jalan Kebangkitan Umat Islam

  1. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Kebangkitan umat harus dimulai dengan perbaikan aqidah, ibadah, akhlak dan sistem kehidupan berdasarkan wahyu.

  1. Membangun Persatuan Umat

Perbedaan jangan menjadi sumber perpecahan. Umat Islam harus bersatu dalam perkara-perkara besar demi kemaslahatan bersama.

  1. Menguatkan Pendidikan dan Teknologi

Umat Islam harus kembali menjadi pelopor ilmu pengetahuan, riset dan teknologi sebagaimana masa keemasan Islam dahulu.

  1. Menguatkan Ekonomi Umat

Potensi SDA dan SDM umat Islam harus dikelola secara profesional, amanah dan mandiri.

  1. Melahirkan Kepemimpinan Rabbani

Umat Islam membutuhkan pemimpin yang berilmu, amanah, adil, berani dan berpihak kepada kepentingan umat.

Mari simak firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak.” (QS. An-Nisaa: 58)

 

Penutup

Satu abad lebih umat Islam hidup tanpa kepemimpinan global yang kuat dan mempersatukan. Padahal umat ini memiliki modal yang luar biasa; wahyu Allah, jumlah manusia yang besar dan kekayaan alam yang melimpah. Problem utama umat bukan kekurangan potensi, tetapi lemahnya persatuan, ilmu, kepemimpinan dan jauhnya umat dari petunjuk Allah.

Jika umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, memperkuat persatuan, membangun ilmu pengetahuan dan menghadirkan kepemimpinan yang amanah, maka bukan mustahil peradaban Islam akan kembali bangkit memimpin dunia dengan keadilan, rahmat dan kemuliaan. | Semoga bermanfaat

——-

]* Abudin Rabbani, penulis, Founder Ummul Quro Institute, tinggal di Bekasi

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *