Oleh Nurzengky Ibrahim
AWAN NEWS — Hijrah, dalam makna umum merupakan perpindahan atau peralihan dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Hanya saja, jika kita bicara masalah hijrah saat ini; Sepertinya memiliki ikatan kuat pada peristiwa perpindahan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam (Saw): dari Makkah ke Madinah.
Inilah agaknya kemudian konsep hijrah dipahami lebih luas oleh ummat sebagai proses perbaikan diri secara spiritual, sosial, dan moral untuk mendapatkan ridha dari Allah Subhanahu wa ta’ala (Swt). Sehingga, hijrah pun dipahami masyarakat mencakup beberapa dimensi penting secara spiritual, antaranya meliputi: berpindah dari perilaku buruk atau suatu kelalaian menuju ketaatan terhadap Alkhaliq.
Melihat hal tersebut, didapati juda adanya perubahan pola pikir (mindset), bahwa hijrah bukanlah sekadar mengubah penampilan; Melainkan juga, sebagai upaya membuka wawasan keilmuan berdasarkan Alqur-an dan Sunnah Rasulullah agar ummat Islam lebih bijak.
Tekanan Kaum Penentang Rasulullah
Peristiwa perpindahan massal ummat Islam yang dipimpin Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah; Bukanlah perpindahan biasa. Akan tetapi, akibat tekanan masif dan kekerasan dari kaum yang menentang gerakan da’wah yang dijalankan Nabi Saw.
Mereka itu dijuluki kaum Quraisy. Adalah Kaum yang menolak ajaran Islam untuk mempertahankan kekuasaan dan tradisi. Mereka, memaksa pengikut Nabi Saw masa awal dengan intimidasi dan penyiksaan berat. Bahkan, mereka berupaya mengembalikan pengikut Rasulullah untuk kembali kepada kekufuran.
Ada pun bentuk tekanan dan intimidasi dari Kaum Quraisy di Makkah meliputi penyiksaan fisik –sahabat dan budak yang memeluk Islam seperti Bilal bin Rabah, keluarga Yasir, dan lainnya– mengalami siksaan kejam di bawah terik matahari.
Lain itu, terjadi pula pemboikotan ekonomi dan sosial. Kaum Quraisy memutus segala bentuk hubungan jual beli, pernikahan, dan komunikasi dengan Bani Hasyim dan Bani Muttalib yang melindungi Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tindakan intimidasi Kaum Qurasy itu menyebabkan kelaparan parah.
Bahkan, teror dan ancaman pembunuhan terhadap pemeluk Islam meningkat; Sehingga, muncul pula rencana pembunuhan terhadap Nabi Muhammad, yang akhirnya menjadi momentum utama dimulainya meninggalkan Kota Makkah dan berhijrah.
Peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw dan pengikutnya tersebut, merupakan perintah Allah Swt. Rasulullah dan pengikutnya, pun melakukan hijrah ke Yatsrib (kini: Madinah) guna menyelamatkan aqidah dan membangun fondasi masyarakat Islam yang kuat.
Perintah Hijrah dan Membangun Strategi
Sebelum perintah hijrah besar-besaran, Rasulullah Saw memerintahkan sebagian sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia) guna mencari suaka politik dan perlindungan dari Raja Najasyi yang adil. Di negeri ini, tercetuslah perjanjian aqabah; Setelah da’wah diterima oleh suku Aus dan Khazraj di Yatsrib. Bahkan, terjadi Bai’at Aqabah yang menjamin keselamatan dan perlindungan bagi Nabi dan umat Islam jika mereka pindah ke sana.
Sedangkan perjalanan Nabi dan pengikutnya ke Madinah, atas izin Allah. Kala itu, Nabi Muhammad bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq melakukan perjalanan sembunyi-sembunyi (pada 622 Masehi) dari Makkah ke Madinah. Perjalanan hijrah diam-diam Nabi Saw untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Beliau bersama Abu Bakar berhasil tiba di Madinah dengan selamat.
Kemudian, ajaran da’wah yang dikembangkan Rasulullah pun terus mengalami peningkatan kekuatan yang signifikan. Dan denyut kehidupan sosial ummat Islam dan masyarakat di Madinah berjalan baik, saling memberi dukungan antara satu dengan yang lain.
Di Madinah inilah denyut hijrah Rasulullah mulai menunjukkan penataan yang kian menguatkan persatuan ummat Islam; Ditandai dengan berjalannya silaturrahim hingga terbentuknya jalinan ukhuwah Islamiyah antara satu dengan yang lain.
Spirit Tauhid dalam Hijrah
Hijrah, menurut Prof. Dr. Bunyamin, M.Pd, tidak cukup dimaknai sebagai perpindahan simbolik diri atau pribadi sebagaimana belakangan terjadi. Hijrah harus menjadi kekuatan sosial yang menggerakkan ummat untuk keluar dari kebodohan, kemiskinan, dan ketergantungan menuju kemajuan serta kemandirian.
“Hijrah sejati di era modern ini harus dilandasi oleh spirit tauhid yang kuat,” ungkap dan pinta Bunyamin, dalam kegiatan Hari Bermuhammadiyah yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Timur, pada Sabtu (13/6/2026).
Oleh karena itu Bunyamin mengajak jamaah dan ummat Islam untuk memaknai hijrah dalam spektrum gerakan transformasi. Dia meyakini, spirit tauhid yang menjadi fondasi hijrah mampu melahirkan implementasi sosial berkeadilan dalam kehidupan masyarakat.
Bunyamin juga mengatakan bahwa tauhid bukan sekadar keyakinan di dalam hati, tetapi juga motor penggerak untuk berhijrah dari kebodohan menuju kemajuan, dari kemiskinan menuju kemandirian ummat. Semangat hijrah inilah ia sebut menjadi ruh bagi setiap amal usaha dan langkah da’wah Islam, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihu wa sallam.
Perintah Allah agar Nabi Hijrah
Spirit tauhid sebagaimana disampaikan Prof Dr Bunyamin dapat dijadikan motor penggerak dalam hijrah untuk menuju kemandirian ummat. Hal tersebut penulis ambil untuk menjadi sebuah ilustrasi sederhana; Di mana hijrahnya Rasulullah Saw sangat kuat mengusung semangat tauhid; Bahkan kekuatan tauhid telah merasuk ke dalam nadi kehidupan sosial ummat da’wah ketika di Madinah: mengenai silaturrahim dan ukhuwah Islamiyah telah berjalan dalam langgam khairu ummah (sebaik-baik ummat).
Oleh karena itu, natijah (kesimpulan) yang dapat penulis papar di sini bahwa: keberhasilan penataan dalam momentum hijrah Rasulullah di Madinah: berkaitan dengan perintah hijrah dari Allah yang juga meliputi empat aspek yang saling kuat menguatkan; Sehingga, julukan khairu ummah yang ditata oleh Rasulullah benar-benar terwujud.
Ada pun empat aspek yang saling menguatkan, tentu tidak terpisahkan dari spirit tauhid dalam hijrah dimaksud. Pertama, ummat Islam diajak Rasulullah Saw untuk tetap berada dalam kesabaran yang prima menghadapi kekejaman Kaum Quraisy di Kota Mekah, karena telah menjadi ummat Islam yang langsung dalam binaan Rasulullah;
Kedua, secara elegan Rasulullah Saw memasukkan kesabaran ke bidang strategi perjuangan; Sehingga, adanya hadangan dan hambatan sebesar apa pun dari kaum yang menolak dan memusuhi ummat Islam harus dihadapi, sekali pun nyawa menjadi taruhannya.
Ketiga, selaku pemimpim ummat, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaiuhi wa sallam mendorong seluruh potensi yang ada untuk membangun kekuatan; Termasuk pasukan perang yang tangguh untuk menghadapi kaum yang memusuhi ummat Islam dan Rasulullah Saw;
Keempat, ketika jihad (melawan orang-orang zhalim) diperintahkan oleh Allah, pasukan bentukan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu dianugerahi oleh Allah kemenangan; Meski pun, ada adakalanya: persenjataan lebih komplet serta jumlah pasukan musuh lebih besar dibanding dengan jumlah pasukan yang dibawa Rasulullah ke medan perang.
Jadi, dapat juga dipertegas di sini: bahwa kesabaran ummat Islam yang hijrah sudah seharusnya menjadi bagian strategi dalam upaya merancang masa depan yang mandiri, kuat, berukhuwah, guna mencapai masa depan yang gemilang serta diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. (*)
—-
SELAMAT TAHUN BARU: 1 MUHARRAM 1448 HIJRIYAH
(Bertepatan dengan 16 Juni 2026 Miladiyah)
Semoga tahun mendatang amal ibadah kita meningkat kepada yang bernilai lebih baik dibandingkan dengan tahun yang telah kita lalui.















