DPRK Aceh Utara Dorong Normalisasi Irigasi, Petani Diharap Segera Kembali ke Sawah

  • Bagikan

Awan News, Aceh Utara — Dukungan terhadap para petani di Kecamatan Tanah Luas terus menguat. Ketua Komisi III DPRK Aceh Utara, Hanafiah yang akrab disapa Arasyah, menegaskan komitmennya untuk mempercepat pemulihan saluran irigasi yang terdampak banjir bandang pada 26 November 2025.

Ia mengapresiasi inisiatif para petani yang mulai bergerak membersihkan jaringan irigasi sepanjang kurang lebih 18 kilometer yang sebelumnya tertimbun lumpur dan material banjir.

Menurut Arasyah, koordinasi dengan berbagai pihak sebenarnya sudah dilakukan sejak lama, termasuk dengan Dinas PUPR. Bahkan persoalan ini juga telah dibahas dalam rapat paripurna DPRK. Namun hingga kini, proses normalisasi masih menunggu tindak lanjut dari BNPB serta Balai Wilayah Sungai Sumatera I berdasarkan laporan yang telah diajukan oleh PUPR Aceh Utara.

“Kami dari Dapil II Tanah Luas bersama Mundirsyah atau Robert siap berada di garda depan mendukung para petani, khususnya di wilayah Tanah Luas. Harapannya, mereka bisa segera kembali mengolah sawah sehingga roda ekonomi masyarakat kembali bergerak,” ujarnya, Senin (3/5/2026).

Ia menekankan pentingnya percepatan penanganan, mengingat kondisi saluran yang saat ini masih dipenuhi endapan lumpur dan sampah sehingga aliran air ke persawahan belum berjalan normal.

Arasyah juga mengingatkan agar seluruh pihak dapat menjaga komunikasi dan mengedepankan musyawarah, sehingga proses pemulihan tidak menimbulkan kesalahpahaman di lapangan.

Kondisi petani di wilayah tersebut memang cukup memprihatinkan.

Selama sekitar enam tahun terakhir, mereka kesulitan menggarap lahan akibat rusaknya Bendung Irigasi Krueng Pase pada 2020. Situasi ini semakin memburuk setelah banjir besar di akhir 2025 yang memperparah sedimentasi di jaringan irigasi.

Meski begitu, kabar baiknya, pembangunan bendung tersebut kini telah rampung.

Pemerintah kini memfokuskan upaya pada pembersihan saluran agar distribusi air bisa kembali normal.
Jika berfungsi optimal, bendung ini akan mengairi sekitar 8.922 hektare lahan pertanian yang tersebar di sembilan kecamatan, yakni Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Bayu, Matangkuli, Syamtalira Aron, Tanah Luas, Nibong, Tanah Pasir, serta Blang Mangat di wilayah Kota Lhokseumawe.

Arasyah juga mendorong adanya dukungan tambahan dari pemerintah, seperti penyediaan alat berat dan bantuan bibit bagi petani, agar proses pemulihan bisa berjalan lebih cepat dan maksimal.

Rencananya, pintu air akan mulai dibuka pada pertengahan Mei hingga September 2026. Jika proses pembersihan selesai sesuai target, dalam beberapa bulan ke depan air sudah dapat mengalir kembali ke sawah.

“Harapan kita, dalam waktu dekat para petani sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” tutupnya. (AS)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *