Oleh Nurzengky Ibrahim
DENGAN BEKAL nilai nilai tauhid, muncul sikap militan ummat Islam. Di antaranya, penganut Islam akhirnya ada yang tampil menjadi pemimpin ummat, melalui kerajaan yang mereka dirikan. Kerajaan Islam juga turut mendominasi dunia perekonomian di Nusantara masa itu. Pengaruh Islam pada gilirannya terus bertambah besar; Dan musuh-musuh Islam pun menjadi hormat dan segan kepada pribadi pribadi pemimpin ummat atau raja yang muslim; Karena tindakannya memperhatikan rakyat hingga ke akar rumput, sekaligus menjembatani kesenjangan sosial antara elitis dengan rakyat jelata yang umumnya berada di perkampungan.
Unsur inilah agaknya, sebagai penyebab agama Islam berkembang lebih cepat hingga mengakar dalam perjalanan da’wah Islam di tanah air hingga sekarang; Bahwa: tauhid tidak hanya dipahami sebagai keyakinan vertikal berupa hablun minallah atau membangun hubungan dengan Allah saja. Akan tetapi juga tauhid dalam sejarah Islam di Indonesia, bertransformasi menjadi nilai-nilai sosial yang menguatkan hubungan antar sesama atau hablun minannas. Semua ini pada gilirnnya terus berproses melalui da’wah Islam melalui bermacam-macam kegiatan dan metode, dalam upaya terbentuknya karakter bangsa beradab.
Penutup
Dalam masa-masa awal kedatangan Islam di kepulauan Nusantara dibawa serta disebarkan saudagar saudagar yang telah memeluk Islam. Sebagai pedagang, tujuan dagang mereka bukan hanya mencari keuntungan ekonomi saja. Akan tetapi juga, melakukan kegiatan da’wah Islam setahap demi setahap.
Pengaruh kegiatan da’wah mereka dapat dilihat ketika ummat Islam mengalami kemajuan dengan mendirikan Kerajaan berbasis ajaran Islam, seperti Samudera Pasai, Malaka, Banten, Demak dan lain sebagainya. Akibat berkembangnya jumlah pemeluk Islam, membawa pengaruh pada keruntuhan dua emprayer besar Sriwijaya dan Majapahit.
Hal itu merupakan indikator bahwa nilai nilai tauhid yang menjadi dasar utama dalam menjalankan syariat Islam, diterima tanpa paksaan oleh masyarakat yang umumnya telah mengenal tentang penerapan sistem kasta, sehingga sesama manusia ada yang hak dan posisinnya direndahkan. Pembudayaan status sosial dengan kasta kasta, pada gilirannya secara berangsur-angsur ikut runtuh. Karena ajaran Islam mensejajarkan kedudukan dasar dan hak manusia di hadapan Alkhaliq Yang Mahapencipta.
Tersebarnya nilai nilai tauhid, jelas terlihat ketika Kerajaan Islam, antaranya Malaka dijajah Portugis. Hal ini menumbuhkan kreativitas ummat Islam memindahkan jalur perdagangan di kepulauan Nusantara yang berdampak pada berdirinya Kerajaan Islam di berbagai Kawasan di Nusantara, termasuk di bagian timur yang memunculkan Kerajaan Ternate dan Tidore.
Sehingga dapat juga disimpulkan, nilai tauhid yang disebarkan melalui kegiatan da’wah Islam, telah dapat mengubah kondisi yang semula berunsurkan kezhaliman menjadi keadilan dalam hak hidup dengan prinsip yang damai dan tanpa paksaan. Pada gilirannya, nilai nilai tauhid turut mengakar dan menkristal di kalangan ummat Islam.
Urgensi tauhid dalam dinamika sosial di Indonesia yang didekati melalui Sejarah, terasa begitu krusial karena menjelma sebagai pondasi moral bangsa kepulauan nusantara, pengikat persatuan (aqidah Islamiyah) pada antar sesama, dan pula menjadi dasar berperilaku dalam menghadapi tantangan di tengah masyarakat majemuk dari masa ke masa.
Oleh karena itu, di sini juga disarankan: penanaman nilai nilai tauhid pada masa sekarang atau era digitalisasi hingga ke masa depan, perlu terus agar dijadikan bagian penting dalam pengembangan da’wah Islam. Beragam teknologi yang telah berkembang dewasa ini, penting terus dikreasi menjadi sarana da’wah agar menjangkau ke seluruh aspek kehidupan. Melalui penanaman nilai nilai tauhid, diharapkan ummat Islam tidak hanya bersikap bertahan namun juga agar menjadi individu yang terpanggil dengan nilai inti kegiatan da’wah untuk mewujudkan khairu ummah. (SELESAI)
———
Referensi:
Boechari, Sidi Ibrahim, Beberapa Teori Cara Masuknya Islam di Indonesia, Jakarta: SDTP Thawalib, 1994.
——-, Sejarah Masuknya Islam dan Proses Islamisasi di Indonesia, Jakarta: Publica, 1971.
——-, Sejarah Indonesia Madya, Jakarta: Gunung Tiga, 1987.
——-, Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau, Jakarta: Gunung Tiga, 1981.
——-, Pemberdayaan Tauhid dalam Da’wah: Perspektif Sejarah Islam di Indonesia, Jakarta: STAI Publisistik Thawalib, 1997
Hamka, Masuk dan Berkembangnya Islam di Pesisir Sumatera, Jakarta: Gema Islam (XXXL), 1963.
Hasym, A, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung: Al-Ma’arif, 1989.
Musa, M. Yusuf, Al-Islam wa Hayatul Insaiyyati Illaihi, Syarikatul Arabiyah Tiba’ati wan Nasyr, 1959.
Qardhawi, Yusuf, al-Dr, Tsaqafah ad-Da’iyyah, Beirut: Mu’assasah-Risalah, 1978.
Verney, DW Brogran and Douglas v, Political Peternin Pody Wordl, New York: Horcourt & Wordl Inc., 1963.
—–
DR Nurzengky Ibrahim, MM., Dosen Pengajar Pendidikan Lingkungan Program Strata-2, pada Universitas Negeri Jakarta. Artikel ini didedikasikan kepada yang kami muliakan Ayahanda tercinta, Almaghfurlah Prof. Sidi Haji Ibrahim Boechari yang wafat pada 6 Februari 2018. Semoga menjadi bagian tak terpisahkan sebagai amal jariyah dalam kesertaannya mengisi kegiatan da’wah Islam pada masa hidup beliau.















