Oleh Nurzengky Ibrahim
AWAN NEWS — Bencana yang disulut oleh tindakan tangan-tangan manusia, bukanlah musibah bersifat alamiah belaka; Melainkan, memiliki kandungan adzab. Apalagi, bencana itu masuk pada ekosistem alam yang diganggu oleh sifat-sifat orang berlebihan serakahnya.
Sifat-sifat tersebut, lebih menunjukkan potensi: sebagai penyebab deforestasi. Maka, penanganan bencananya, tentu memerlukan keseriusan, komprehenshif, serta tanpa lagi memandang siapa ‘pemain’ di balik terjadinya deforestasi penyebab banjir bandang yang membawa hanyut begitu banyak sampah dan kayu-kayu gelondongan.
Jerit tangis korban yang tidak mengetahui sejak dini akan bahaya deforestasi, khususnya di lingkungan banjir bandang, pada gilirannya dapat dipastikan: bahwa mereka merasakan beratnya penderitaan. Sehingga, para penegak serta pengambil kebijakan yang terlibat ‘menggusur’ dan ‘menggeser’ fungsi hutan dengan alasan investasi, penting untuk disadarkan sesadar-sadarnya, bahwa sifat-sifat serakah yang terakomidasikan di kebijakan, pastilah merugikan.
Banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dalam waktu nyaris bersamaan, telah menjadi bukti: betapa eksploitasi hutan atas nama lahan, telah ‘dimainkan’ secara berlebih-lebihan.
Terlepas, musibah ataukah adzab banjir bandang itu. Tulisan ini, mencoba mengungkapkan keresahan yang timbul akibat keserakahan yang sangat dimungkinkan ada: pada rentetan kejadian atas gundulnya pepohonan besar pada jutaan hektar lahan hutan yang kian jelas.
Bencana, ternyata tidak tercegah melalui ruang-ruang rapat yang pokok bahasannya berunsurkan bagaimana ‘menyembunyikan sikap penidasan‘ kepada jutaan rakyat level akar rumput di tanah air.
Bencana yang tiba dan tidak dapat dikendalikan para pembuat kebijakan itu, telah pula mengubah sebagian pejabat –terutama yang terlibat langsung–: bak memperlihatkanĀ ‘wajah buram, kaku lidah juga stroke di kedalaman kejiwaan.’ Pasalnya, di antara pejabat, ada yang cenderung hendak menafikan ‘korban banjir bandang yang menuai dalamnya rasa: alangkah banyak kerugian dan minimnya rasa tanggungjawab berkeadilan.’
Kebijakan pemerintah masa kemarin yang cenderung menguntungkan kelompok minoritas berduit –mungkin pula terluputkan dari audit resmi–, semakin mengemuka lewat pemberitaan dan media sosial. Mulai dari belahan daerah-daerah, nusantara, hingga belahan dunia menyoroti; Bukan hanya banjirnya yang disoal, melainkan pula mencakup kebijakan atau ‘aturan main’ sebagai penyebab terjadinya deforestasi.
Sorotan tajam terhadap para pemangku kebijakan terkait hutan di Indonesia, pun kian menorehkan nilai minor; Oleh karena, masih ditemukannya pejabat negara yang ‘begitu tega‘ menjadikan bencana alam laksana wahana pencitraan.
Padahal, akibat adanya kebijakan yang cenderung mengakomodasi ‘keserakahan’ hingga terjadi penggundulan hutan, telah menyebabkan hewan-hewan penghuni rimba tidak hanya kehilangan tempat tinggal, namum juga kehabisan stok makanan. Dan, ketika banjir bandang menghantam pemukiman penduduk, ribuan nyawa tidak terselamatkan: di antara mereka ada yang hilang terseret arus banjir dan ada pula yang ditemukan berkeadaan tidak lagi bernyawa.
Kemudian, hitunglah ‘rumah-rumah nyaman bagi kehidupan masyarakat‘ yang hancur serta fasilitas publik yang porak poranda. Bukankan amukan banjir bandang itu –walau mungkin ada yang menyebut hanya sebagian–, merupakan rentetan dari ‘keserakahan’ yang diakomodasikan pada kebijakan?
Sifat Serakah dalam Struktur Sosial
Meninggikan sifat-sifat serakah, ternyata tidaklah melahirkan elegansi bagi diri sendiri. Mengedepankan sifat-sifat serakah, bukan pula sebagai bagian dari perangkat harmoni di tengah-tengah lingkungan sosial yang kian mengglobal.
Keserakahan yang melambai lambai hari ini, hanyalah melahirkan ‘huru hara’ yang dimulai dari kedalaman jiwa sendiri; Karena ada kebijakan berdampak negatif pada pembangunan lingkungan di bagan-bagan struktur sosial. Mungkin juga ada pembuat skenario hingga mengakibatkan peristiwa sedahsyat itu.
Agaknya, penting juga dipahami oleh setiap diri, bahwa: sifat-sifat serakah merupakan benih penyakit yang bersarang di kedalaman jiwa. Jika saja ada pejabat-pejabat negara gandrung memperjuangkan sikap dan sifat serakah, samalah artinya dengan membangun ‘istana megah’ di tepian pantai dengan material bangunan hanya menggunakan bahan pasir berlumpur.
Oleh karena itu, keserakahan tidak akan pernah sanggup membentuk elegansi pada diri sendiri. Dan, keserakahan juga menghilangkan mekanisme serta kemampuan bersama dalam membangun harmonisasi sosial.
Hal demikian, cepat atau lambat, pada masanya tercermin juga dari ragam upaya yang disifati dengan dis-transparansi; Kemudian, ragam upaya ini diikuti pula dengan menumpuknya aspek ‘bela diri’ sekadar untuk menutup-tutupi prilaku yang selama ini hanya: seakan humanis.
Ciri Logika Serakah
Logika orang serakah, antaranya dapat saja dicirikan melalui; Pertama, gampang menuduh mereka yang tidak sepemahaman diiring dengan ungkapan pengusiran agar hidup di luar negeri saja; Kedua, merasa punya kekuasaan hingga mudah menyepelekan pendapat akademik yang kritis; Ketiga, menguatkan inspirasi penggusuran atas hak-hak orang banyak untuk kepentingan diri sendiri dan komunitasnya.
Sedangkan yang keempat, cenderung memaknakan keadilan hanya bermuara pada keuntungan pribadi dan keluarga sendiri plus kelompoknya saja; Dan kelima, kehilangan rasa ikhlas dengan selalu berhitung untung-rugi pada setiap ‘sen’ duit yang dikeluarkannya, sekali pun ada ikrar: untuk membantu program pembangunan harmonisasi sosial.
Berangkat dari yang penulis cirikan di atas, maka: orang serakah dapat juga penulis katagorikan sebagai orang yang rakusnya berlebih-lebihan. Orang demikian, tak hanya memiliki kecendrungan sebagai egoistis, namun juga sebagai penyandang gaya hidup hedonistis yang kronis. Na’udzubillahi min dzalik.
Sebagai penutup tulisan, disarankan: penanganan bencana yang membawa musibah bagi jutaan rakyat –terutama pada level akar rumput tak berdosa–, hendaknya ditangani secara serius dan komprehenship. Sedangkan pemimpin tertinggi negara, hendaknya pula mengkaji ulang kebijakan yang ditunggangi sifat sifat serakah; Termasuk memberikan hukuman setimpal laksana banjir bandang: tanpa pandang bulu siapa ‘pemain’ di balik terjadinya deforestasi penyebab banjir yang dahsyat, antara lain yang terjadi: di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. (*)















