Awan News, Lampung Tengah — Di tengah kesibukan profesi yang beragam, para alumni Pondok Pesantren Nurul Bayan Bandarsari, Lampung Tengah, tetap menjaga komitmen terhadap Al-Qur’an melalui kegiatan Sima’an Al-Qur’an yang digelar secara rutin setiap bulan.
Sima’an tersebut berlangsung di kediaman Ustaz Ahmad Rifai, Kampung Sriagung, Kecamatan Padang Ratu, Kabupaten Lampung Tengah. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para alumni untuk menjaga hafalan, mempererat silaturahmi, sekaligus menguatkan misi membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Koordinator kegiatan, Ibu Nyai Lilis Syamsiah (Al-Hafidzah), mengatakan bahwa menjaga hafalan di tengah kesibukan adalah tantangan besar bagi para alumni.
“Para alumni kini memiliki kesibukan yang berbeda-beda, ada yang menjadi guru, PPPK di KUA, petani, pedagang, hingga buruh. Namun, Alhamdulillah, semangat mereka untuk menjaga hafalan tetap terjaga melalui Sima’an ini,” ujar Nyai Lilis, dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini bukan hanya bertujuan untuk menjaga hafalan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ukhuwah antar alumni yang kini tersebar dalam berbagai profesi.
Melalui Sima’an, para alumni kembali dipertemukan dalam suasana keakraban, saling berbagi cerita, serta menghidupkan kembali nilai-nilai pesantren yang telah mereka dapatkan semasa mondok.
Selain menjaga hafalan dan silaturahmi, kegiatan ini juga diarahkan sebagai upaya membumikan Al-Qur’an di tengah masyarakat. Para alumni menilai masih banyak warga sekitar yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, bahkan ada yang belum memahami dan mengamalkan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi benar-benar hidup dalam perilaku umat. Itu yang kami ikhtiarkan melalui Sima’an ini,” kata salah satu alumni, yang juga berprofesi sebagai guru.
Para alumni juga berharap kegiatan ini menjadi jalan untuk meraih keberkahan dari Al-Qur’an. Mereka meyakini setiap huruf yang dibaca mengandung nilai pahala dan keberkahan dalam kehidupan.
Nyai Lilis menuturkan bahwa keberkahan tersebut bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga ketenangan hidup dan keberkahan keluarga.
“Kami meyakini Al-Qur’an adalah mukjizat Rasulullah. Setiap huruf yang dibaca mengandung keberkahan, baik bagi usia, rezeki, maupun keluarga,” tuturnya.
Diketahui, sanad Al-Qur’an yang dimiliki Nyai Lilis Syamsiah diperoleh dari Ibu Nyai Al-Musrifah (Al-Hafidzah), pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falah, Banyuwangi. Hal ini menjadi penguat keilmuan dan legitimasi keilmuan dalam pelaksanaan Sima’an tersebut.
Melalui kegiatan yang terus dijaga secara konsisten ini, para alumni berharap cahaya Al-Qur’an tetap menyinari kehidupan mereka, meski berada di ruang-ruang profesi yang berbeda. (AS)















