Pekik Semangat Bung Tomo, Tulus-Ikhlas Berjuang untuk Indonesia

  • Bagikan
Foto: Istimewa/dok-pri
DR Nurzengky Ibrahim, MM., penulis, Dosen pengajar Pendidikan Lingkungan Strata-2 pada Universitas Negeri Jakarta. | Foto: Istimewa/dok-pri

Oleh Nurzengky Ibrahim

“Merdeka atau mati!”. Merupakan slogan yang jadi seruan paling dikenal dari pidato-pidato Bung Tomo. Tidak hanya berapi-api dalam berpidato, namun juga kalimat-kalimatnya mencerminkan tekad yang kuat agar Bangsa Indonesia tidak menyerah kepada kaum penjajah.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”. Adalah seruan takbir. Kalimat bermakna Allah Mahabesar itu, sering kali digunakan Sutomo –begitu nama asli Bung Tomo– pada awal siaran radio. Kata-kata penyemangat ini untuk menggerakkan hati masyarakat; Terutama kalangan santri di Surabaya agar melakukan perlawanan terhadap pasukan sekutu pimpinan Inggris.

Kedatangan tentara sekutu ke Indonesia, diboncengi Netherlands Indies Civil Administration (NICA) pada 25 Oktober 1945 di Surabaya. Awalnya, mereka datang dengan alasan mengamankan para tawanan perang, melucuti senjata pasukan Jepang, dan menjaga ketertiban.

Hanya saja, NICA dalam pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sother Mallaby membawa pasukan masuk ke Kota Surabaya dan menduduki pos-pos pertahanan. Hal tersebut dipandang para tokoh dan pejuang Kemerdekaan RI laksana pengibaran bendera perang terhadap bangsa Indonesia yang belum lama memproklamasikan kemerdekaan.

Pasukan sekutu, dalam beberapa catatan sejarah, didominasi oleh tentara Inggris. Mereka menyerbu penjara dan membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh Indonesia.

Tak hanya itu, mereka juga memerintahkan agar masyarakat Indonesia menyerahkan senjata yang dimiliki kepada pasukan sekutu, pada 27 Oktober 1945. Perintah dari pasukan sekutu itu, secara terus terang ditolak pihak Indonesia.

Pada 28 Oktober 1945, pasukan Indonesia melancarkan serangan ke pos-pos pertahanan pasukan sekutu. Serangan yang dipimpin Bung Tomo berhasil merebut tempat-tempat penting.

Keesokan harinya, terjadi gencatan senjata antara pihak Indonesia dengan pihak Inggris. Hanya saja, bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan masyarakat Surabaya masih terus terjadi. Bahkan, pada 30 Oktober 1945, pimpinan pasukan Ingris Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh dan tewas.

Wafatnya Brigjen Mallaby digantikan Mayor Jendral Eric Carden Robert Mansergh. Pemimpin pasukan Inggris untuk Jawa Timur yang baru ini marah besar. Kemudian pihak Inggris mengeluarkan ultimatum 10 November 1945, meliputi: Seluruh pemimpin Indonesia di Surabaya harus melaporkan diri; Seluruh senjata yang dimiliki pihak Indonesia di Surabaya harus diserahkan kepada Inggris; Dan para pemimpin Indonesia di Surabaya harus bersedia menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.

Warga Surabaya Pimpinan Bung Tomo enggan mematuhi ultimatum tersebut. Pertempuran lebih besar pada gilirannya tiada terhindarkan. Pada 10 November 1945 di mulai pagi hari, pasukan Inggris menggempur Kota Surabaya dari berbagai penjuru.

Beberapa penulis sejarah perjuangan kemerdekaan mencatat, upaya Inggris menghancurkan Surabaya mengerahkan banyak pasukan dan paralatan perang dari darat, laut, dan udara. Pertempuran 10 November 1945, menelan banyak korban jiwa. Situasi Kota Surabaya hancur akibat dibombardir sekutu.

Diperkirakan, sekitar 20.000-an masyarakat Surabaya, sebagian besar adalah warga sipil telah menjadi korban. Lain itu, sekitar 150.000 orang terpaksa meninggalkan kota.

Sedangkan prajurit Inggris yang tewas, hilang dan lika-luka diperkirakan sekitar 1.600 orang. Puluhan peralatan perang mereka banyak yang rusak dan hancur.

Salah satu pejuang yang berperan besar mengobarkan semangat perlawanan rakyat Surabaya dalam pertempuran ini, adalah Bung Tomo. Ia membakar semangat lewat mikrofon dan siaran radio pemberontakan, milik Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI).

Melalui siaran radio, Bung Tomo tidak hanya berteriak. Akan tetapi juga, ia mengajak seluruh rakyat untuk bersatu padu merebut kembali tempat-tempat penting yang diduduki Sekutu, saat perjuangan difokuskan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut.

Kata-kata pengobar semangat di atas, telah banyak dilansir para penulis sejarah Kemerdekaan RI. Secara nyata, kobaran semangat dari Bung Tomo agar rakyat melawan panjajah yang hendak mengambil alih kembali kepemimpinan negara dan bangsa Indonesia mampu digagalkan.

Rakyat, terutama di Kota Surabaya, dengan penuh semangat berbaur satu komando dalam slogan: “Merdeka atau Mati,” juga teriring “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Pekik semangat Bung Tomo, telah menjadi tonggak sejarah ditetapkannya Hari Pahlawan di Republik Indonesia pada setiap 10 November.

Penetapan Hari Pahlawan diatur melalui Keputusan Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Dalam Keputusan Presiden tersebut, 10 November ditetapkan secara resmi sebagai Hari Pahlawan Nasional pada 16 Desember 1959.

Membahas masalah Hari Pahlawan Nasional, Bung Tomo memang tidaklah sendirian. Ia salah seorang tokoh nasional yang berjuang menggerakkan masyarakat di Kota Surabaya. Bung Tomo, adalah seorang yang piawai membangunkan hingga mengobarkan semangat rakyat.

Slogan: “Merdeka atau Mati” dan juga takbir: “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” menandakan tentang adanya rasa tulus dan ikhlas yang menyelimuti perjuangannya, untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. (*)

——-

Bung Tomo dilahirkan di Kampung Blauran, Surabaya: 3 Oktober 1920. Ia anak sulung dari enam orang bersaudara.  Ayah: Kartawan Tjiptowidjojo; Ibu: Subastita.

Karir Bung Tomo Masa Muda

– Anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia Kelas I (yang pertama untuk Jawa Timur, sedangkan yang kedua untuk seluruh Indonesia);
– Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) Ranting Anak Cabang di Tembok Duku, Surabaya sekitar tahun 1937;
– Wartawan lepas Harian Soeara Oemoem di Surabaya tahun 1937;
– Redaktur Mingguan Pembela Rakyat di Surabaya tahun 1938;
– Ketua kelompok sandiwara Pemuda Indonesia Raya di Surabaya tahun 1939;
– Wartawan dan penulis pojok Harian Ekspres di Surabaya tahun 1939;
– Pembantu koresponden Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta untuk Surabaya di bawah asuhan Anjar Asmara tahun 1940;
– Wakil pemimpin redaksi Kantor Berita Domei bagian bahasa Indonesia untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya tahun 1942–1945;
– Pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya tahun 1945.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *