Awan News, Palestina – Warga di Gaza Strip menyambut Ramadan 1447 Hijriah dalam kondisi penuh keterbatasan akibat konflik berkepanjangan yang menghancurkan ribuan bangunan, termasuk masjid dan fasilitas umum. Meski demikian, semangat ibadah dan kebersamaan tetap terasa kuat di berbagai sudut wilayah tersebut.
Salat tarawih perdana digelar secara sederhana, sebagian dilakukan di area terbuka maupun di antara reruntuhan bangunan yang rusak. Sejumlah laporan media internasional seperti Reuters menunjukkan warga tetap memadati lokasi ibadah darurat dengan penuh kekhusyukan.
Di kamp-kamp pengungsian, suasana Ramadan dihiasi lentera buatan dari bahan daur ulang serta lampu sederhana yang digantung di tenda-tenda. Potret yang dimuat sejumlah media nasional seperti Liputan6.com dan Detikcom memperlihatkan anak-anak Gaza tetap bermain dan tersenyum di tengah kondisi yang serba terbatas.
Di kawasan Pasar Al Rimal, dua remaja setempat, Sara Saada dan Joud Al-Hayek, melukis mural di atas puing bangunan dengan pesan “Ramadan is Better in Our Land.” Lukisan tersebut menjadi simbol harapan dan keteguhan warga untuk tetap mencintai tanah kelahiran mereka meski berada dalam situasi sulit.
Sejumlah foto yang beredar memperlihatkan warga berbuka puasa bersama di dekat bangunan yang hancur, mengantre bantuan makanan, serta menghias lingkungan sekitar untuk menghadirkan nuansa Ramadan. Gambaran itu menegaskan bahwa bulan suci tetap menjadi momentum spiritual yang menyatukan masyarakat.
Ramadan tahun ini menjadi pengingat akan ketabahan warga Palestina. Di tengah duka dan tantangan ekonomi, mereka tetap menjaga nilai keimanan, mempererat solidaritas, dan menanamkan harapan bagi generasi mendatang. (*)















