Oleh Nurzengky Ibrahim
AWAN NEWS — Banyak tokoh cendikia muslim mengistilahkan, bahwa bulan Ramadhan sebagai wahana pendidikan; Yang juga merupakan madrasah atau sekolah kehidupan insani yang acuannya berada di poros waktu tertentu.
Tak sembarang waktu, tentunya. Akan tetapi juga, pada bulan Ramadhan disediakan oleh Allah Yang Mahakuasa berjenis kesempatan yang bobotnya disifati dengan keistimewaan tersendiri, dan berbeda dengan sebelas bulan lainnya.
Di atas keistimewaan itu, pada bulan Ramadhan ada kewajiban berpuasa.
Kegiatan puasa, lebih dipastikan menjadi bagian utama; Sekaligus, puasa sebagai barometer pada upaya perbaikan diri dan lingkungan kaum mukminin –secara jiwa raga–, agar tertuju pada pencapaian nilai-nilai taqwa: dalam artian, kalangan mukmin yang puasa kelak menjadi hamba Allah yang berposisi paling mulia di antara banyaknya manusia di permukaan bumi.
Sebagai salah satu keistimewaan Ramadhan, alangkah baiknya jika kita simak keutamaan yang ada di dalam bulan Ramadhan, melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan Ibn Majjah, sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ ، وَنَادَى مُنَادٍ : يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ ، وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ.
Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika tiba awal malam bulan Ramadhan, para setan dan pemimpin-pemimpinnya dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada yang dibuka. Pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup, lalu ada penyeru yang berseru, ‘Hai orang yang mencari kebaikan, teruskanlah. Hai orang yang mencari keburukan, berhentilah. Sesungguhnya Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam.” (HR Tirmidzi dan Ibn Majjah)
Termaktub pada hadits di atas disebutkan secara lebih umum; Bahwa, semua kebaikan dan keutamaan ada dalam bulan Ramadhan. Ada pun salah satu hadits lebih spsifik menyebut bagi orang yang berpuasa dan menghidupkan bulan Ramadhan, akan mendapatkan keutamaan: diampuni kekhilafan serta kelalaiannya pada waktu-waktu yang telah lalu, sebagaimana pada hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, sebagai berikut:
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غُفِرَ له ما تقدَّم مِنْ ذَنْبِهِ ، ومن قام ليلةَ القَدْرِ إيمانا واحتسابا غُفِرَ له ما تقدَّم مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Siapa yang menghidupkan bulan Ramadhan (dengan puasa atau ibadah) dengan iman dan mengharap balasan terbaik dari Allah, maka diampuni kekhilafannya yang telah lalu, dan barang siapa yang menghidupkan (keibadahan) malam lailatul qadar dengan iman dan mengharap balasan terbaik dari Allah subhanahu wata’ala maka diampuni segala kelalaiannya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada hadits di atas menegaskan, bahwa rahmat berupa ampunan dari Allah menjadi kunci pembuka bagi orang-orang yang berpuasa; Sekaligus mendorong orang yang berpuasa itu untuk bercerah diri penuh ikhlas, melalui aktivitas menghidupkan Ramadhan melalui aneka ragam kegiatan yang dimuati dengan nilai-nilai ibadah kepadaNya.
Ampunan dan Rahmat
Rahmat dari Allah bagi hamba-hambaNya, sesunggnya tiada terbatas. Ampunan, merupakan rahmatNya yang sangat luas karena Allah berkuasa untuk menutupi, menghapus, dan tidak menghukum khilaf atau lalai dari hamba-hambaNya yang memohon ampunan dengan sungguh-sungguh.
Penting pula dicerna akal pikiran, bahwa: ampunan (maghfirah) dari Allah itu, merupakan rahmat yang sangat bernilai bagi kita selaku hambaNya. Rahmat ini dicerminkan dari sifat yang dimiliki Allah, yaitu: Al-Ghaffar (Mahapengampun) yang berfungsi rahmat yang menutup aib hamba-Nya, serta menegaskan bahwa: ada pintu taubat yang dibuka luas-luas olehNya.
Secara bahasa, ampunan berasal dari kata ghafara yang berarti menutup. Dengan istighfar, Allah menutup kekhilafan dan aib hamba-Nya di dunia untuk kepentingan akhirat; Allah juga tidak menampakkan lagi aib hambaNya yang bersungguh-sungguh memohon ampunan.
Oleh karena itu, ampunan juga menjadi karunia Allah yang menghindarkan manusia dari adzab neraka. Dengan memohon ampunan (istighfar), kita tidak hanya mendapatkan pembersihan jiwa mau pun raga, tetapi juga diberiNya perlindungan dari dampak buruk atas kelakuan orang-orang zhalim yang secara terus menerus menebar fitnah terhadap kaum beriman yang memilih taat kepada Allah Ta’ala dan RasulNya.
Maka dari itu, jika Ramadhan dikatakan sebagai madrasah atau sekolah kehidupan; Berarti pula, bulan ini sebagai bulan yang penting untuk dijadikan renungan dan kajian secara berkelanjutan. Ada pun Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, karena pada bulan ini dipenuhi juga dengan dinamika yang didasari pedoman kehidupan hakiki (Alqur-an).
Melalui kegiatan puasa selama bulan Ramadhan, bertumbuhan juga motivasi: agar selaku hambaNya, muslimin-muslimat serta mukminin mukminat, tidak merasa sungkan untuk mendekatkan diri kepada Alkhaliq dan melaksanakan permohonan terhadapNya.
Oleh karena itu, setiap mukmin yang diseru melalui Alqur-an dan hadits, supaya menunaikan kewajiban puasa Ramadhan sebulan penuh. Selain itu, selama Ramadhan juga dianjurkan untuk menghidupkannya dengan memperbanyak: istiqhfar, shalat sunnah, berdoa, membaca dan mempelajari Alqur-an, menggemarkan bersedekah, hingga membangun kesalehan mulai dari diri sendiri, keluarga, juga masyarakat di lingkungan sekitar.














