Oleh Asyaro G Kahean
AWAN NEWS — Sebelum tiba, umumnya ummat Islam, mengelu-elukan lewat doa dan harapan: agar dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Begitu sampai di pintu bulannya, disambut dengan penuh rasa suka cita. Dan ketika di ujung perpisahan dengan Ramadhan, serasa berat hati; Dikarenakan, adanya nilai-nilai spiritual yang bersumberkan Alqur-an berpotensi tumbuh subur di ranah al huda (petunjuk) yang ditaburi benih-benih al furqan si pembawa makna: pembeda yang tumbuh bersemi mengiringi perjalanan Ramadhan.
Hal demikian menandakan, pada momentum Ramadhan, bukanlah sekadar bulan yang diidam-idamkan ummat untuk bersuci jiwa-raga; Melainkan juga, terdapati cerminan akan adanya energi spiritual yang diturunkan ke bumi oleh Allah untuk ummat yang cinta belajar, cinta sungguh-sungguh berjuang atau jihad, dalam artian: ‘menyingkirkan pemikiran berpola ceroboh di atas sikap hedonisme yang mengakrabi prilaku zhalim (bathil)’.
Perintah Puasa
Puasa Ramadhan mulai diperintahkan oleh Allah setelah turunnya ayat Alqur-an, Surat Al-Baqarah: 183. Ayat ini, turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriah, atau sekitar tahun 624 Masehi. Berarti, dimulainya perintah puasa berlaku: setelah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat hijrah dan berada di Madinah.
Setelah turun ayat berupa perintah puasa, kemudian puasa Ramadhan ini dihukumi sebagai fardhu ‘ain, yaitu: mewajibkan setiap mukmin laki-laki dan mukmin perempuan untuk berpuasa. Kewajiban yang diberlakukan untuk ummat Islam yang beriman ini, memiliki syarat: telah baligh, keadaan akalnya sehat dan ia mampu (tidak berkeadaan: udzur syar’i [عذر شرعي]).
Penetapan kewajiban berpuasa, berarti pula, setelah 14 tahunan dari awal kerasulan Nabi Muhammad –ditandai turunnya wahyu pertama kali yang beliau terima di Gua Hira, pada bulan Ramadhan–, sekitar tahun 610 Masehi. Dengan adanya rentang waktu demikian, lebih memperlihatkan adanya pola adaptatif dari ayat-ayat Alqur-an yang diturunkan oleh Allah dengan cara berangsur-angsur.
Alqur-an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, dengan masa: sekitar 23 tahun. Terhitung, dimulai dari Nabi berusia 40 tahun hingga menjelang beliau wafat, di usia 63 tahun.
Pada masa Khalifah Abubakar Shiddiq hingga Khalifah Utsman bin Affan, mushaf Alquran yang ditulis di berbagai media oleh para sahabat, mulai dikumpulkan. Setelah melewati seleksi sangat ketat dan teliti, akhirnya mushaf-mushaf yang telah terseleksi valid disatukan menjadi Kitab Suci Alqur-an yang dipedomani oleh ummat Islam hingga hari ini dan mendatang.
Pada setiap bulan Ramadhan, senyatanya, banyak sekali ummat Islam yang terdorong untuk membaca Alqur-an. Hanya saja, di antaranya, hingga saat ini masih banyak yang terbius dengan peristilahan ‘pahala’ berkarakter tradisional, karena yang dikejar sebatas khatam baca.
Oleh karena itu, masih sangat diperlukan peningkatan daya penalaran, terlebih di kalangan ummat Islam sendiri, bahwasanya Alqur-an itu merupakan firman Allah yang mengandung fungsi sebagai ‘هدی للناس’, yang berarti: Alqur-an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia. Berarti juga, bukan terbatas bagi orang-orang beriman atau bertaqwa saja; Namun juga bagi mereka yang belum beriman kepada Allah, berpotensi memperoleh petunjuk dari Alqur-an.
Bulan Menghormati Qur-an
Bulan Ramadhan merupakan momentum terkuat untuk menerima julukan sebagai bulan Alqur-an. Hanya saja, julukan ini dapat saja meredup manakala orang-orang yang berpuasa, keadaan jiwanya tertutup karena merasa puas dengan ‘pahala’ di atas pemahaman tradisional yang stagnan.
Allah, telah menurunkan Alqur-an kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihu wa sallam secara berangsur-angsur. Dan bukan diturunkan sekaligus. Allah Mahatahu, ayat-ayat Alqur-an dariNya untuk mengubah cara pandang hingga cara berpikir manusia ciptaanNya.
Jadi, pola penurunan ayat-ayat Alqur-an bukanlah menggunakan metode yang berkonsepsi ‘kun fayakun’, karena ini hanya milikNya. Akan tetapi, konsep yang diperkenalkanNya melalui Rasulullah mengandung kepentingan: agar dikembangkan oleh manusia secara tahap demi tahap (berproses, ada pihak yang menghambat, ada pula tantangan).
Dengan konsep tahap demi tahap itulah al qudrah (kodrat) dan al iradah (iradat) Allah lebih dominan untuk dijiwai oleh manusia, bil khusus bagi orang-orang yang telah memperoleh petunjuk (al huda) dan beriman kepadaNya. Hanya saja, al huda atau petunjuk –meski iman sudah ada di jiwa– belumlah mencapai sakralitas (nilai kesucian yang rekat dan melekat) di jiwa mau pun raga seseorang, manakala belum dilengkapi oleh sistem aplikasi bertajuk: al furqan atau pembeda.
Petunjuk atau al huda, secara pasti, merupakan pembuka wawasan keimanan insani terhadap nilai nilai ilahiyah yang tiada sekutu bagiNya. Konteks yang dinalarkan kepada manusia, dalam hal ini, meliputi pengenalan seluruh sifat-sifat Allah sebagaimana tertetera pada asma-ul husna.
Berikutnya, akal penalaran kita diperkuat dengan anjuran beriman: kepada makhluq-makhluq ghaib yang Allah diciptakan; Lalu, kepada nabi dan rasulNya; Kepada kitab-kitabNya; Kepada hari akhir; Dan kemudian juga mengenai berlakunya qadha dan qadar dariNya.
Sedangkan al furqan atau pembeda, memiliki fungsi sebagai pemisah; Yaitu: memisahkan antara yang haq dengan yang bathil .
Dalam hal ini, furqan bukanlah sekadar keyakinan an-sich namun juga sebagai bagian dari sistem aplikasi untuk menjadi gerakan, aktivitas atau amaliah mengisi form, table atau alat ukur; Berkonteks, pada: ‘amilush shalihati (amal saleh) dengan menjalankaan nilai-nilai kebenaran hakiki (al haqq) beserta kesabaran (ash shabr) guna menuju hamparan taman firdaus kaum mukhlishin (orang-orang yang ikhlas).
Kegiatan selama bulan Ramadhan, begitu jelas; Dan, merupakan bagian tidak terpisahkan dari al furqan yang memiliki fungsi utama: memisahkan antara yang haq dengan yang bathil.
Lain itu, anjuran berpuasa juga memiliki hubungan sangat erat dengan penegakan disiplin diri untuk menjunjung tinggi masalah kejujuran terhadap ilahi dan diri sendiri (melalui keyakinan atau iman mendalam). Sekali pun orang lain mungkin tidak pernah tahu ada orang yang berpuasa hanya pura pura, namun Allah secara pasti mengetahuinya; Sebagaimana diri orang yang pura-pura berpuasa itu mengetahui.
Natijah
Sebelum datangnya perintah yang berkenaan dengan kewajiban berpuasa, telah diperkenalkan oleh Allah lebih dulu, bahwa Ramadhan sebagai bulan turunnya ayat Alqur-an pertama kalinya. Hal demikian, menjadikan bulan Ramadhan sebagai identitas berupa bulan Alqur-an.
Hal lainnya, Ramadhan pada gilirannya menjadi bulan pembangunan spiritual yang menyatukan aksi pada pertumbuhan dan pengembangan minal huda wal furqan; Lewat sistem aplikasi utamanya aktivitas shaum atau berpuasa –pengendali diri untuk menekan hawa nafsu yang disifati hedonisme dan kebathilan–; Maka, perwujudan niat yang tulus karena Allah Ta’ala pada kegiatan Ramadhan sudah sepantasnya menjadi perhatian serius.
Apalagi, kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan didasari anjuran Alqur-an. Maka dari itu, boleh pula dikata, berpuasa berikut kegiatan bernilai kebaikan lain selama Ramadhan –yang sesuai dengan hadits (teladan dari) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam–, memiliki kedudukan yang tidak terpisahkan dengan gerak mental spiritual yang berkait erat dengan pemanifestasian rasa hormat terhadap Alqur-an. (*)
نۤۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ















