Oleh: Uhibbuddin Al Haqq
Pimpinan Umum Awan News
Tanggal 21 Mei 1998, adalah titik patah sejarah Indonesia. Hari ketika kekuasaan yang tampak kokoh, akhirnya runtuh oleh suara rakyat. Jalanan dipenuhi mahasiswa, aktivis, dan masyarakat yang lelah hidup dalam tekanan ekonomi, ketakutan politik, serta kebebasan yang dibatasi selama puluhan tahun.
Reformasi lahir bukan hanya karena krisis moneter, melainkan karena rakyat merasa negara sudah terlalu lama berdiri tanpa mau mendengar suara mereka sendiri.
28 tahun berlalu, reformasi justru menghadirkan pertanyaan yang lebih rumit: apakah Indonesia benar-benar berubah, atau hanya mengganti wajah kekuasaan?
Dulu masyarakat melawan rezim yang dianggap terlalu otoriter. Hari ini, tantangannya tidak lagi sesederhana itu.
Demokrasi memang tumbuh, tetapi perlahan muncul gejala baru yang lebih halus. Kekuasaan tidak lagi menekan dengan cara lama, melainkan dengan cara yang lebih modern: pencitraan, pengaruh media, penguasaan opini publik, hingga mungkin permainan informasi di ruang digital.
Kita hidup di zaman ketika kebebasan berbicara tersedia luas, tetapi kebenaran justru sering tenggelam di tengah kebisingan.
Media sosial yang dulu dianggap ruang demokrasi baru, kini, terkadang bisa berubah menjadi arena saling serang. Kritik sering dibalas fanatisme. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan masyarakat terkadang lebih sibuk membela tokoh politik dibanding membela kepentingan rakyat itu sendiri.
Inilah ironi reformasi hari ini: rakyat berhasil meruntuhkan ketakutan, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun kedewasaan demokrasi.
Memang harus diakui, reformasi membawa banyak perubahan besar. Pers lebih bebas. Pemilu berlangsung terbuka. Mahasiswa tidak lagi dibungkam seperti masa lalu. Banyak anak muda kini bisa berbicara tentang politik tanpa rasa takut.
Namun, reformasi ternyata tidak otomatis menghapus budaya kekuasaan.
Korupsi masih hidup dengan model yang lebih rapi. Politik uang tetap menjadi penyakit tahunan. Dinasti politik tumbuh di berbagai daerah. Jabatan publik kadang masih diperebutkan bukan untuk pengabdian, melainkan untuk mempertahankan pengaruh dan kepentingan kelompok.
Yang paling mengkhawatirkan, sebagian masyarakat mulai kehilangan semangat untuk peduli. Banyak orang merasa suara mereka tidak lagi berpengaruh. Politik dianggap sekadar tontonan elite, sementara rakyat hanya penonton yang datang setiap pemilu.
Padahal reformasi dulu, lahir karena rakyat percaya bahwa suara mereka bisa mengubah keadaan.
Sejarah menunjukkan, bahwa ancaman terbesar sebuah bangsa bukan hanya kekuasaan yang buruk, tetapi juga masyarakat yang perlahan terbiasa dengan keadaan buruk itu sendiri.
Ketika korupsi dianggap hal yang biasa saja, demokrasi mulai melemah. Ketika kritik dianggap gangguan, kebebasan mulai kehilangan makna, yang dianggap bagian dari simbolik formalistik tanpa ada tindak lanjut. Dan ketika masyarakat lebih takut berbeda pendapat, dibanding takut kehilangan keadilan, reformasi sebenarnya sedang berjalan mundur.
MASIH ADA HARAPAN
Harapan itu masih ada pada mahasiswa yang tetap turun menyuarakan ketidakadilan. Pada jurnalis yang tetap menulis fakta di tengah tekanan. Pada masyarakat kecil yang masih percaya bahwa negeri tercinta ini sangat pantas diperbaiki. Dan pada generasi muda yang mulai sadar, bahwa politik bukan hanya urusan elite, melainkan urusan masa depan semua orang. Karena sejatinya reformasi bukan sekadar peristiwa sejarah.
Reformasi adalah keberanian untuk terus mengingatkan kekuasaan bahwa negara ini bukan milik segelintir orang dan kedaulatan tertinggal berada pada rakyat. Bahwa jabatan bukan mahkota, melainkan amanah dan/atau mandataris rakyat. Dan bahwa rakyat tidak boleh hanya dibutuhkan saat pemilu, lalu dilupakan setelahnya.
Dua puluh delapan tahun reformasi mengajarkan satu hal penting: mengganti pemimpin memang bisa dilakukan dalam semalam, tetapi membangun budaya demokrasi membutuhkan waktu jauh lebih panjang.
Dan mungkin, perjuangan terbesar reformasi hari ini bukan lagi menjatuhkan kekuasaan. Melainkan menjaga agar rakyat tidak kehilangan keberanian untuk berpikir dan bersuara.













